Saya mohon bersama Anda untuk berlatih mengajukan pertanyaan ini, dengan perhatian lembut terhadap pengalaman orang lain: “Apa yang Anda pikirkan?”

Empat puluh tahun silam saya naik ke jok pengemudi dari semi-truk 18 gardan bersama istri saya yang cantik, Jan, serta bayi lelaki kami Scotty. Kami membawa muatan berat material bangunan melintasi sejumlah negara bagian.

Pada waktu itu tidak ada restriksi sabuk pengaman atau tempat duduk bayi di mobil. Istri saya menggendong bayi lelaki kami dalam pelukannya. Komentarnya “Kita benar-benar berada tinggi di atas tanah” seharusnya memberi saya petunjuk tentang perasaan cemasnya.

Sewaktu kami melewati jalan menurun di Donner Pass yang bersejarah, bagian curam dari jalan raya itu, kendaraan semi-mobil ini tiba-tiba dan tak terduga dipenuhi dengan asap tebal. Sulit untuk melihat, dan kami nyaris tidak bisa bernapas.

Dengan kendaraan besar, rem saja tidaklah cukup untuk secara mendadak mengurangi kecepatan. Dengan menggunakan rem mesin dan menurunkan persneling, saya panik mencoba untuk berhenti.

Pas saat saya mengarah ke sisi jalan, namun sebelum kami benar-benar berhenti, istri saya membuka pintu mobil dan melompat keluar dengan bayi kami dalam pelukannya. Saya melihat tak berdaya sewaktu mereka jatuh ke tanah.

Segera setelah saya berhasil menghentikannya, saya berlari dari mobil berasap itu. Dengan adrenalin terpompa, saya berlari melewati bebatuan dan rerumputan dan merangkul mereka dalam lengan saya. Lengan dan siku Jan babak belur serta berdarah, namun bersyukur dia dan putra kami keduanya masih hidup. Saya hanya memeluk erat mereka sewaktu debu menerpa di sisi jalan raya itu.

Sewaktu saya tenang kembali dan saya bisa bernapas, saya menyeletuk, “Kamu ini memikirkan apa sehingga berbuat seperti itu? Tahukah kamu betapa berbahayanya itu? Kamu bisa saja terbunuh!”

Dia menatap kembali pada saya, dengan air mata menetes di pipi penuh noda asap, dan mengatakan sesuatu yang menusuk hati saya dan masih terngiang di telinga saya: “Saya hanya ingin menyelamatkan putra kita.”

Saya sadar pada saat itu dia mengira mesin terbakar, takut truk akan meledak, dan kami akan mati. Bagaimana pun, saya tahu itu suatu kegagalan listrik—berbahaya namun tidak fatal. Saya menatap istri terkasih saya, dengan lembut mengusap kepala bayi lelaki kami, dan bertanya-tanya wanita seperti apa yang mau melakukan sesuatu yang sedemikian berani.

Situasi ini bisa saja sama berbahayanya secara emosional seperti kegagalan mesin harfiah kita. Bersyukur, setelah diam membisu selama beberapa saat, kami masing-masing percaya orang lainlah yang bersalah, kami akhirnya menumpahkan emosi kami yang meledak-ledak. Perasaan kasih dan ketakutan yang kami rasakan bagi keselamatan orang lain mencegah insiden dari hancurnya pernikahan yang berharga.

Paulus memperingatkan, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah [hanya] perkataan yang baik [dan] membangun, di mana perlu supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29). Perkataannya bergema dengan kemurnian tertentu.

Apa artinya kalimat “janganlah ada perkataan kotor” bagi Anda? Kita semua secara teratur mengalami perasaan yang memicu kemarahan besar—kemarahan kita sendiri atau orang lain. Kita telah melihat kemarahan tak terkontrol meledak di tempat-tempat umum. Kita telah mengalami itu sebagai sejenis “ledakan” emosi di acara-acara olahraga, di arena politik, dan bahkan di rumah kita sendiri.

Anak-anak terkadang berbicara kepada orangtua terkasih dengan lidah setajam belati. Pasangan, yang telah berbagi kenikmatan hidup dan pengalaman paling manis, kehilangan visi serta kesabaran terhadap satu sama lain dan meninggikan suara mereka. Kita semua, meskipun anak-anak perjanjian Bapa Surgawi yang pengasih, telah menyesali dalam membuat penilaian cepat dan telah berbicara dengan kata-kata kasar sebelum kita memahami situasi dari perspektif orang lain. Kita semua memiliki kesempatan untuk belajar betapa kata-kata yang merusak dapat mengubah sebuah situasi dari berbahaya menjadi fatal.

Sepucuk surat baru-baru ini dari Presidensi Utama menandaskan secara gamblang, “Injil Yesus Kristus mengajarkan kepada kita untuk mengasihi dan memperlakukan semua orang dengan kebaikan dan kesopanan—bahkan ketika kita tidak sepakat” (Surat Presidensi Utama, 10 Januari 2014). Sungguh sebuah pengingat yang luar biasa di mana kita dapat dan hendaknya berperan serta dalam melanjutkan dialog yang sopan, terutama ketika kita memandang dunia dari perspektif yang berbeda.

Penulis Amsal, Salomo menasihati, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Amsal 15:1). “Jawaban yang lemah-lembut” terdiri atas respons yang bernalar—kata-kata terkontrol dari hati yang rendah hati. Tidaklah berarti kita tidak pernah berbicara blakblakan atau bahwa kita mengkompromisasikan kebenaran yang bersifat doktrin. Kata-kata yang mungkin tegas dalam informasi dapatlah lembut dalam roh.

Kitab Mormon berisikan contoh yang mencolok tentang bahasa yang meneguhkan juga diberikan dalam konteks perselisihan dalam pernikahan. Para putra Saria dan Lehi telah diutus kembali ke Yerusalem untuk mendapatkan lempengan-lempengan kuningan dan tidak kembali. Saria percaya para putranya berada dalam bahaya, dan dia dipenuhi dengan amarah dan perlu mempersalahkan seseorang.

Dengarkanlah kisah menurut putranya Nefi: “Karena [ibuku] telah mengira bahwa kami telah binasa di padang belantara; dan dia juga telah mengeluh terhadap ayahku, memberi tahu dia bahwa dia adalah orang yang cenderung berpenglihatan; mengatakan: Lihatlah engkau telah menuntun kami jauh dari tanah warisan kita, dan para putraku tidak ada lagi, dan kita binasa di padang belantara” (1 Nefi 5:2).

Nah, mari kita pertimbangkan apa yang Saria mungkin telah pikirkan. Dia dipenuhi dengan kecemasan mengenai para putranya yang terkadang bertengkar kembali ke tempat di mana kehidupan suaminya telah terancam. Dia telah menukarkan rumahnya yang indah serta teman-teman dengan sebuah tenda di padang belantara yang terpencil sementara masih dalam masa-masa suburnya. Disebabkan ketakutannya yang besar, Saria seolah-olah telah melompat dengan berani, jika tidak secara rasional, dari ketinggian dari sebuah truk yang melaju kencang dalam upaya untuk melindungi keluarganya. Dia menyatakan keprihatinan sah terhadap suaminya dalam bahasa kemarahan dan keraguan serta mempersalahkan—bahasa di mana seluruh ras umat manusia tampaknya secara mengejutkan mahir.

Nabi Lehi mendengarkan ketakutan yang menjadi sumber kemarahan istrinya. Kemudian dia memberikan respons yang terkontrol dalam bahasa belas kasih. Pertama, dia memiliki kebenaran tentang seperti apa hal-hal terlihat menurut perspektif [istri]nya: “Dan … ayahku berbicara kepadanya, mengatakan: Aku tahu bahwa aku adalah orang yang cenderung berpenglihatan; … tetapi [jika aku] masih tinggal di Yerusalem, [kita telah] binasa bersama saudara-saudaraku” (1 Nefi 5:4).

Kemudian suaminya berbicara tentang ketakutan [istri]nya mengenai kesejahteraan para putra mereka, sebagaimana yang Roh Kudus dengan tanpa ragu bersaksi kepadanya, katanya:

“Tetapi lihatlah, aku telah mendapatkan suatu tanah yang dijanjikan, yang dalam hal-hal itu aku bersukacita; ya, dan aku tahu bahwa Tuhan akan menyelamatkan para putraku dari tangan Laban .…

Dan menurut cara berbahasa ini ayahku, Lehi, menghibur ibuku, … mengenai kami” (1 Nefi 5:5–6).

Dewasa ini ada kebutuhan besar bagi pria dan wanita untuk saling memupuk respek terlepas dari kepercayaan dan perilaku kita, serta motivasi mereka yang mungkin sangat berbeda. Tidaklah mungkin untuk mengetahui semua yang masuk dalam benak dan hati kita atau bahkan untuk memahami sepenuhnya konteks pencobaan dan pilihan-pilihan yang kita hadapi.

Meskipun demikian, apa yang akan terjadi terhadap “perkataan kotor” yang Paulus katakan jika posisi kita sendiri terdapat empati terhadap pengalaman orang lain terlebih dahulu? Sepenuhnya memahami batas-batas ketidaksempurnaan dan sisi kasar saya sendiri, saya mohon bersama Anda untuk berlatih mengajukan pertanyaan ini, dengan perhatian lembut terhadap pengalaman orang lain: “Apa yang Anda pikirkan?”

Ingatlah ketika Tuhan mengejutkan Samuel dan Saulus dengan memilih anak lelaki gembala kecil, Daud dari Betlehem, sebagai raja Israel? Tuhan memberi tahu Nabi-Nya, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1 Samuel 16:7).

Ketika mobil truk kami dipenuhi dengan asap, istri saya bertindak dengan sikap pemberani yang dapat dia bayangkan untuk melindungi putra kami. Saya juga bertindak sebagai pelindung ketika saya mempertanyakan pilihannya. Mengejutkan, tidaklah menjadi masalah siapa yang lebih benar. Yang penting adalah saling mendengarkan dan memahami perspektif orang lain.

Kesediaan untuk memahami situasi orang lain akan mengubah “perkataan kotor” menjadi “beroleh kasih karunia.” Rasul Paulus memahami ini, dan pada beberapa tingkatan kita masing-masing dapat juga mengalaminya. Itu mungkin tidak mengubah atau mengatasi masalah, namun kemungkinan lebih pentingnya apakah beroleh kasih karunia dapat mengubah kita.

Saya memberikan kesaksian rendah hati bahwa kita dapat “beroleh kasih karunia” melalui bahasa belas kasih ketika karunia yang ditingkatkan dari Roh Kudus menembus hati kita dengan empati bagi perasaan dan konteks orang lain. Itu memungkinkan kita untuk mengubah situasi yang berbahaya menjadi tempat-tempat kudus. Saya bersaksi tentang kasih Juruselamat yang “melihat hati [kita]” dan peduli terhadap apa yang kita pikirkan. Dalam nama Yesus Kristus, amin.