Menerima Roh Kudus

Dari Kuorum Dua Belas Rasul


David A. Bednar
Tiga kata ini—“Terimalah Roh Kudus”—bukan tuturan pasif; tetapi itu merupakan suatu perintah keimamatan—nasihat perintah untuk bertindak dan tidak untuk ditindaki.
 

Pesan saya berfokus pada pentingnya berjuang dalam kehidupan sehari-hari kita untuk benar-benar menerima Roh Kudus. Saya berdoa memohon dan mengundang Roh Tuhan untuk mengajar dan meneguhkan kita masing-masing

Karunia Roh Kudus

Pada bulan Desember 1839, sementara di Washington D.C untuk mencari ganti rugi atas kesalahan yang dilakukan kepada para Orang Suci Missouri, Joseph Smith dan Elias Higbee menulis kepada Hyrum Smith: “Dalam wawancara kami dengan Presiden [Amerika Serikat], dia menginterogasi kami bahwasanya agama kita berbeda dengan agama orang lain waktu itu. Brother Joseph mengatakan bahwa kami berbeda dalam hal pembaptisan, dan karunia Roh Kudus dengan penumpangan tangan. Kami menganggap bahwa semua pertimbangan lain terdapat dalam karunia Roh Kudus melalui penumpangan tangan. Kami menganggap bahwa segala pertimbangan perbedaan lainnya tercakup dalam karunia Roh Kudus” (Ajaran-Ajaran Presiden Gereja: Joseph Smith [2007], 111).

Roh Kudus adalah anggota ketiga Tubuh Ke-Allah-an; dia adalah pribadi roh dan memberikan kesaksian akan segala kebenaran. Dalam tulisan suci Roh Kudus dirujuk sebagai Penghibur (lihat Yohanes14:16–27; Moroni 8:26), guru (lihat Yohanes 14:26; A&P 50:14), dan Pewahyu (lihat 2 Nefi 32:5). Wahyu-wahyu dari Bapa dan Putra disampaikan melalui Roh Kudus. Dia adalah utusan bagi dan saksi akan Bapa dan Putra.

Roh Kudus dimanifestasikan kepada para pria dan wanita di bumi baik secara kuasa maupun sebagai karunia Roh Kudus. Kuasa dapat datang kepada seseorang sebelum pembaptisan; itu adalah kesaksian yang meneguhkan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dan Penebus kita. Melalui kuasa Roh Kudus para simpatisan yang tulus dapat memperoleh keyakinan akan kebenaran Injil Juruselamat, Kitab Mormon, dan kenyataan akan pemulihan, dan tentang panggilan kenabian Joseph Smith.

Karunia Roh Kudus dianugerahkan hanya setelah pembaptisan yang benar dan diwenangkan melalui penumpangan tangan oleh mereka yang memegang Imamat Melkisedek. Tuhan berfirman:

“Ya, bertobatlah dan dibaptislah, setiap orang darimu, untuk pengampunan akan dosa-dosamu; ya, dibaptislah bahkan dengan air, dan kemudian datanglah baptisan dengan api dan Roh Kudus ….

Dan barang siapa menunjukkan iman hendaknya kamu kukuhkan di dalam gereja-Ku melalui penumpangan tangan, dan Aku akan melimpahkan karunia Roh Kudus ke atas mereka” (A&P 33:11, 15).

Rasul Paulus menjadikan praktik ini jelas bagi orang-orang Efesus ketika dia bertanya:

“Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.

Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.”

Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.”

Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.

Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka” (Kisah Para Rasul 19:2–6).

Baptisan dengan pencelupan adalah “tata cara pendahuluan dari Injil, dan haruslah diikuti dengan baptisan oleh Roh supaya lengkap” (Kamus Alkitab, “Pembaptisan,” 323). Nabi Joseph Smith menjelaskan bahwa “pembaptisan adalah tata cara kudus persiapan untuk menerima Roh Kudus; itu adalah jalur dan kunci yang melaluinya Roh Kudus akan diberikan. Karunia Roh Kudus melalui penumpangan tangan, tidak dapat diterima melalui cara dari asas lain mana pun daripada asas kebenaran” (Ajaran-Ajaran: Joseph Smith, 110–111).

Tata cara untuk mengukuhkan anggota baru Gereja dan menganugerahkan karunia Roh Kudus adalah sederhana dan luar biasa. Para pemegang Imamat Melkisedek yang layak menumpangkan tangan mereka di atas kepala individu-individu dan menyebut namanya. Kemudian, dengan wewenang dari imamat kudus dan dalam nama Juruselamat, individu itu dikukuhkan sebagai anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir dan kalimat yang penting ini diucapkan: “Terimalah Roh Kudus.”

Kesederhaan tata cara ini dapat menyebabkan kita meninjau signifikansinya. Tiga kata ini—“Terimalah Roh Kudus”—bukan tuturan pasif; tetapi itu merupakan suatu perintah keimamatan—nasihat perintah untuk bertindak dan tidak untuk ditindaki (lihat 2 Nefi 2:26). Roh Kudus tidak dapat bekerja dalam kehidupan kita hanya karena tangan ditumpangkan di atas kepala kita dan tiga kata itu diucapkan. Sewaktu kita menerima tata cara ini, kita masing-masing menerima tanggung jawab kudus dan berkelanjutan untuk berkeinginan, mencari, bekerja, dan hidup sedemikian rupa sehingga kita benar-benar “menerima Roh Kudus” dan karunia rohani bantuannya. “Karena apakah itu menguntungkan seseorang jika suatu karunia dilimpahkan ke atas dirinya dan dia tidak menerima karunia itu? Lihatlah, dia tidak bersukacita dalam apa yang diberikan kepadanya, tidak juga bersukacita dalam dirinya yang adalah pemberi karunia itu” (A&P 88:33).

Apa yang hendaknya kita lakukan untuk menjadikan nasihat yang diwenangkan untuk mencari penemanan dari anggota ketiga Tubuh Ke-Allah-an dan kenyataan yang berkesinambungan? Izinkan saya menyarankan bahwa kita perlu untuk (1) dengan tulus berhasrat untuk menerima Roh Kudus; (2) dengan pantas mengundang Roh Kudus ke dalam hidup kita; dan (3) dengan setia mematuhi perintah-perintah Allah.

Dengan Tulus Berhasrat

Pertama-tama kita hendaknya berhasrat, mendambakan, dan mencari penemanan Roh Kudus. Anda dan saya dapat belajar sebuah pelajaran besar tentang hasrat yang benar dari para murid setia Tuhan yang diuraikan dalam Kitab Mormon:

“Dan kedua belas itu mengajar khalayak ramai; dan lihatlah, mereka menyuruh agar khalayak ramai hendaknya berlutut di atas permukaan tanah, dan hendaknya berdoa kepada Bapa dalam nama Yesus .…

Dan mereka berdoa untuk apa yang paling mereka hasratkan; dan mereka berhasrat agar Roh Kudus hendaknya diberikan kepada mereka” (3 Nefi 19:6, 9).

Apakah kita juga ingat untuk berdoa dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus untuk apa yang hendaknya paling kita hasratkan, yaitu Roh Kudus? Atau apakah kita terganggu dengan hal-hal dari dunia dan rutinitas hidup sehari-hari dan menerima begitu saja atau bahkan mengabaikan karunia yang paling berharga dari semua karunia? Menerima Roh Kudus dimulai dengan hasrat yang tulus dan konstan bagi penemanan-Nya dalam hidup kita.

Dengan Pantas Mengundang

Kita akan lebih siap menerima dan mengenali Roh Tuhan sewaktu kita secara pantas mengundang-Nya dalam hidup kita. Kita tidak dapat memaksa, menekan, atau memerintahkan Roh Kudus. Melainkan, kita hendaknya mengundang-Nya dalam hidup kita dengan kelembutan dan kehangatan yang melaluinya Dia akan meminta kepada kita (lihat A&P 42:14.).

Permohonan kita bagi penemanan Roh Kudus terjadi dalam banyak cara: melalui membuat dan menepati perjanjian-perjanjian; melalui berdoa dengan sungguh-sungguh sebagai individu dan keluarga; melalui mencari tulisan suci dengan tekun; melalui memperkuat hubungan yang pantas dengan anggota keluarga serta teman-teman; melalui mencari pikiran, tindakan, dan bahasa yang bajik; dan melalui beribadat di rumah kita, di bait suci yang kudus, dan di Gereja. Sebaliknya, kesembronoan terhadap atau melanggar perjanjian dan komitmen, gagal untuk berdoa dan menelaah tulisan suci, dan pikiran, tindakan serta bahasa yang tidak senonoh menyebabkan Roh undur diri dari atau menghindari kita secara bersamaan.

Sebagaimana Raja Benyamin mengajar rakyatnya, “Dan sekarang, aku berkata kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa setelah kamu mengetahui dan diajarkan segala hal ini, jika kamu akan melanggar dan melakukan bertentangan dengan apa yang telah dibicarakan, sehingga kamu menarik dirimu dari Roh Tuhan, maka itu tidak bisa memiliki tempat dalam dirimu untuk membimbingmu di jalan kebijaksanaan agar kamu boleh diberkati, dimakmurkan, dan dilindungi” (Mosia 2:36).

Dengan Setia Mematuhi

Dengan setia mematuhi perintah-perintah Allah adalah penting untuk menerima Roh Kudus. Kita diingatkan tentang kebenaran ini setiap minggu sewaktu kita mendengarkan doa sakramen dan dengan layak mengambil roti dan air. Sewaktu kita mengikrarkan kesediaan kita untuk mengambil ke atas diri kita nama Yesus Kristus, selalu mengingat-Nya, dan menaati perintah-Nya, kepada kita dijanjikan bahwa kita dapat selalu memiliki Roh-Nya bersama kita (lihat A&P 20:77). Oleh karenanya, segala hal yang Injil Juruselamat ajarkan kepada kita untuk dilakukan dan menjadi dimaksudkan untuk memberkati kita dengan penemanan Roh Kudus.

Pikirkanlah alasan kita berdoa dan menelaah tulisan suci. Ya, kita ingin berkomunikasi dalam doa kepada Bapa Surgawi dalam nama Putra-Nya. Dan ya, kita berhasrat untuk memperoleh terang dan pengetahuan yang tersedia dalam kitab-kitab suci. Tetapi mohon ingatlah bahwa kebiasaan kudus ini terutama adalah cara-cara yang melaluinya kita selalu mengingat Bapa Surgawi dan Putra Terkasih-Nya dan adalah prasyarat untuk penemanan yang berkesinambungan dari Roh Kudus.

Pikirkan alasan kita beribadat di Rumah Tuhan dan dalam pertemuan-pertemuan hari Sabat kita. Ya, kita melayani leluhur kita yang telah meninggal di bait suci—dan keluarga serta teman-teman kita di lingkungan-lingkungan dan cabang-cabang dimana kita tinggal. Dan ya, kita menikmati sosialisasi yang benar yang kita temukan di antara para brother dan sister kita. Tetapi kita berkumpul bersama terutama dalam persatuan untuk mencari berkat-berkat serta petunjuk dari Roh Kudus.

Berdoa, menelaah, berkumpul, beribadat, melayani, dan mematuhi bukanlah hal asing dan bebas dalam daftar periksa Injil akan hal-hal yang harus dilakukan. Tetapi, masing-masing dari praktik yang benar ini merupakan unsur penting dalam menggapai kerohanian tertinggi untuk memenuhi mandat menerima Roh Kudus. Perintah dari Allah yang kita patuhi dan nasihat terilhami dari para pemimpin Gereja yang kita ikuti secara prinsip berfokus pada memperoleh penemanan Roh. Pada dasarnya, semua ajaran dan kegiatan Injil berpusat pada menerima Roh Kudus dalam kehidupan kita.

Anda dan saya hendaknya berusaha untuk menjadi seperti para teruna yang diuraikan dalam Kitab Mormon yang “melaksanakan setiap kata perintah dengan ketepatan; ya, dan bahkan menurut iman mereka itu terjadilah bagi mereka .…

… Dan mereka saksama untuk mengingat Tuhan Allah mereka dari hari ke hari; ya, mereka berusaha keras untuk menaati peraturan-Nya, dan keputusan-Nya, dan perintah-Nya secara berkelanjutan” (Alma 57:21; 58:40).

Kesaksian

Tuhan telah menyatakan bahwa Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir adalah “satu-satunya gereja yang sejati dan hidup di atas seluruh muka bumi” (A&P 1:30). Gereja yang dipulihkan ini benar karena itu adalah Gereja Juruselamat; Dia adalah “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 14:6). Dan itu adalah Gereja yang hidup karena pekerjaan dan karunia Roh Kudus. Betapa diberkatinya kita untuk hidup di zaman ketika imamat ada di bumi, dan kita dapat menerima Roh Kudus.

Beberapa tahun setelah Nabi Joseph Smith mati syahid, dia menampakkan diri kepada Presiden Brigham Young dan membagikan nasihat yang tak lekang waktu ini, “Katakanlah kepada umat ini agar rendah hati dan setia serta memastikan untuk memertahankan Roh Tuhan dan itu akan menuntun mereka dengan benar. Berhati-hatilah dan janganlah menolak suara yang halus lembut itu; itu akan mengajar [mereka] yang harus dilakukan dan kemana harus pergi; itu akan menghasilkan buah-buah kerajaan. Katakanlah kepada para saudara untuk menjaga hati mereka tetap terbuka bagi keyakinan agar ketika Roh Kudus datang kepada mereka, hati mereka akan siap untuk menerimanya. Mereka dapat membedakan Roh Tuhan dari semua roh lainnya. Roh itu akan membisikkan kedamaian dan sukacita ke dalam jiwa mereka, dan itu akan mengambil kedengkian, kebencian, keirihatian, pertikaian, serta semua kejahatan dari hati mereka; dan seluruh hasrat mereka akan digunakan untuk melakukan kebaikan, mendatangkan kebenaran, serta membangun kerajaan Allah. Katakan kepada saudara-saudara jika mereka mau mengikuti Roh Tuhan mereka akan melangkah dengan benar” (Ajaran-Ajaran: Joseph Smith, 112).

Saya berdoa kita akan dengan sungguh-sungguh berhasrat dan dengan pantas mengundang Roh Kudus ke dalam hidup kita sehari-hari. Saya juga berdoa kita masing-masing akan dengan setia mematuhi perintah-perintah Allah dan dalam kenyataannya menerima Roh Kudus. Saya menjanjikan bahwa berkat-berkat yang diuraikan oleh Nabi Joseph Smith kepada Brigham Young berlaku dan dapat diperoleh bagi setiap individu yang mendengar atau membaca pesan ini.

Saya memberikan kesaksian tentang kenyataan hidup dari Bapa dan Putra. Saya bersaksi bahwa Roh Kudus adalah Pewahyu, Penghibur, dan Guru hebat yang dari-Nya kita hendaknya belajar. Dan saya bersaksi bahwa berkat-berkat serta karunia-karunia Roh bekerja dalam Gereja Yesus Kristus yang dipulihkan, benar, dan hidup di zaman akhir ini. Saya bersaksi akan hal itu dalam nama kudus Tuhan Yesus Kristus, amin.