Lebih daripada Orang-Orang yang Menang, oleh Dia yang Telah Mengasihi Kita

Of the First Quorum of the Seventy


Paul V. Johnson
Pencobaan-pencobaan ini bukanlah hanya untuk menguji kita. Itu sangat penting bagi proses mengenakan kodrat ilahi. Itu sangat penting bagi proses mengenakan kodrat ilahi.

Kehidupan di bumi mencakup ujian, pencobaan, serta kesukaran, dan sebagian dari pencobaan yang kita hadapi dapat menyiksa. Apakah berupa penyakit, pengkhianatan, godaan, kehilangan mereka yang kita kasihi, bencana alam atau cobaan berat lainnya, kesengsaraan adalah bagian dari pengalaman fana kita. Banyak yang bertanya-tanya mengapa kita harus menghadapi tantangan sulit tertentu. Kita tahu bahwa satu alasan adalah untuk menyediakan pencobaan bagi iman kita untuk melihat apakah kita akan melakukan segala yang telah Tuhan perintahkan.1 Untungnya kehidupan di bumi ini adalah tempat yang sempurna untuk menghadapi—dan melalui—ujian-ujian ini.2

Tetapi pencobaan-pencobaan ini bukanlah hanya untuk menguji kita. Itu sangat penting bagi proses mengenakan kodrat ilahi.3 Jika kita menangani kesengsaraan-kesengsaraan ini dengan benar, itu akan dipersucikan demi keuntungan kita.4

Penatua Orson F. Whitney berkata, “Tidak ada rasa sakit yang kita derita, tidak ada pencobaan yang kita alami adalah sia-sia …. Semua yang kita derita dan semua yang kita tanggung, khususnya sewaktu kita menanggungnya dengan sabar, membangun sifat kita, memurnikan hati kita, mengembangkan jiwa kita, dan menjadikan kita lebih lemah lembut dan penuh kasih amal. Adalah melalui kesusahan dan penderitaan, kerja keras serta kesukaran, maka kita memperoleh pendidikan yang untuk mendapatkannya kita datang di sini.5

Baru-baru ini seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun didiagnosis dengan kanker tulang yang langka. Dokter menjelaskan diagnosis dan perawatannya, termasuk berbulan-bulan kemoterapi dan pembedahan besar. Dia berkata bahwa itu akan menjadi masa yang sangat sulit bagi anak tersebut dan keluarganya, namun kemudian menambahkan, “Orang-orang bertanya kepada saya, ‘Apakah saya akan sama setelah semua ini selesai?’ Saya memberi tahu mereka, ‘Tidak, Anda tidak akan sama. Anda akan menjadi jauh lebih kuat. Anda akan menjadi mengagumkan!’”

Terkadang mungkin terasa seolah pencobaan kita difokuskan pada bagian-bagian dari hidup kita dan bagian-bagian dari jiwa kita yang tampaknya paling susah untuk kita atasi. Karena pertumbuhan pribadi merupakan hasil yang dimaksudkan dari tantangan-tantangan ini, tidaklah mengherankan bahwa pencobaan-pencobaan tersebut dapat menjadi sangat pribadi—hampir dituntun dengan jitu pada kebutuhan atau kekurangan tertentu kita. Tidak seorang pun terkecuali, khususnya tidak para orang suci yang berusaha untuk melakukan apa yang benar. Sebagian orang suci yang patuh mungkin bertanya, “Mengapa saya? Saya berusaha untuk baik! Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?” Tungku kesengsaraan membantu memurnikan bahkan orang suci yang terbaik dengan membakar habis kotoran dalam kehidupan mereka dan menyisakan emas murni.6 Bahkan bijih logam yang sangat kaya perlu diperhalus untuk menghilangkan ketidakmurnian. Menjadi baik tidaklah cukup. Kita ingin menjadi seperti Juruselamat, yang belajar sewaktu Dia menderita rasa sakit dan kesengsaraan dan godaan dari setiap jenisnya.7

Crimson Trail di Ngarai Logan adalah salah satu tempat mendaki favorit saya. Bagian utama jalan setapak tersebut merambat sepanjang puncak tebing limestone yang tinggi dan menawarkan pemandangan indah dari ngarai dan lembah di bawah. Namun, mencapai puncak tebing tersebut tidaklah mudah. Jalan setapak di sana merupakan tanjakan yang terus-menerus, dan sesaat sebelum mencapai puncak, pendaki menghadapi bagian paling curam dari jalan tersebut, dan pemandangan ngarai tersembunyi di balik tebing itu sendiri. Pengerahan tenaga yang terakhir lebih daripada sepadan dengan usahanya, karena begitu di atas, pemandangannya sangatlah indah. Satu-satunya cara untuk melihat pemandangan tersebut adalah dengan cara memanjat.

Sebuah pola dalam tulisan suci dan dalam kehidupan menunjukkan bahwa sering kali, ujian yang paling kelam, yang paling berbahaya segera mendahului peristiwa yang menakjubkan dan pertumbuhan yang luar biasa.” Setelah banyak kesukaran datanglah berkat.”8 Anak-anak Israel terjebak di depan Laut Merah sebelum itu dikuakkan.9 Nefi menghadapi bahaya, kemarahan dari kakak-kakaknya, dan kegagalan-kegagalan beruntun sebelum dia mendapatkan lempengan-lempengan kuningan.10 Joseph Smith diliputi oleh kekuatan jahat sedemikian kuat sehingga tampaknya dia terhukum pada kehancuran yang sepenuhnya. Ketika dia hampir siap untuk tenggelam ke dalam keputusasaan, dia mengerahkan tenaga untuk memanggil Allah, dan pada saat itu juga dia dikunjungi oleh Bapa dan Putra.11 Sering simpatisan menghadapi pertentangan dan kesusahan saat mereka mendekati pembaptisan. Para ibu mengetahui bahwa tantangan melahirkan mendahului mukjizat kelahiran. Waktu demi waktu kita melihat berkat-berkat yang menakjubkan di tumit pencobaan besar.

Ketika nenek saya berusia sekitar 19 tahun, dia mendapat penyakit yang menyebabkan dia menjadi sangat sakit. Dia kemudian berkata, “Saya tidak bisa berjalan. Kaki kiri saya tidak berbentuk setelah saya berada di tempat tidur selama beberapa bulan. Tulang-tulang menjadi lunak seperti spon, dan ketika saya menyentuhkan kaki saya di lantai terasa seperti tersengat aliran listrik.”12 Sementara dia terbujur di tempat tidur dan pada puncak penderitaannya, dia mendapatkan dan mempelajari pamflet dari Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir. Dia diinsyafkan dan kemudian dibaptis. Sering kali tantangan tertentu membantu mempersiapkan kita untuk sesuatu yang sangat penting.

Di sela masalah-masalah, hampir tidak mungkin untuk melihat bahwa berkat-berkat yang datang jauh melebihi rasa sakit, rasa malu atau patah hati yang mungkin kita alami pada saat itu.”Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”13 Rasul Paulus mengajarkan, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya.”14 Adalah menarik bahwa Paulus menggunakan istilah “penderitaan ringan.” Ini berasal dari seseorang yang telah didera, dilempari batu, mengalami karamnya kapal, ditawan, dan yang mengalami banyak pencobaan lain.15 Saya ragu banyak dari kita menganggap penderitaan kita ringan. Namun dibandingkan dengan berkat dan pertumbuhan yang pada akhirnya kita terima, baik dalam kehidupan ini maupun dalam kekekalan, penderitaan kita sesungguhnya adalah ringan.

Kita tidak mencari ujian, pencobaan, dan kesusahan. Perjalanan pribadi kita sepanjang kehidupan akan menyediakan jumlah yang tepat untuk kebutuhan kita. Banyak pencobaan adalah hanya bagian yang alami dari keberadaan fana kita, tetapi itu memainkan peranan yang demikian penting dalam kemajuan kita.

Sewaktu pelayanan fana Juruselamat hampir berakhir, Dia mengalami pencobaan yang terberat sepanjang waktu—penderitaan yang luar biasa di Getsemani dan di Golgota. Ini mendahului kebangkitan yang mulia dan janji bahwa semua penderitaan kita suatu hari akan dihilangkan. Penderitaan-Nya adalah syarat awal bagi makam yang kosong pada pagi Paskah itu dan bagi kebakaan serta kehidupan kekal kita di masa depan.

Terkadang kita ingin memiliki pertumbuhan tanpa tantangan dan mengembangkan kekuatan tanpa pergumulan apa pun. Tetapi pertumbuhan tidak bisa datang dengan menggunakan cara yang mudah. Kita dengan jelas memahami seorang atlit yang menghindari latihan keras tidak akan pernah menjadi atlit kelas dunia. Kita mesti berhati-hati agar kita tidak menolak bahkan apa yang membantu kita mengenakan kodrat ilahi.

Tidak satu pun dari tantangan dan kesusahan yang kita hadapi adalah melampaui batasan kita karena kita memiliki saluran untuk bantuan dari Tuhan. Kita dapat melakukan segala hal melalui Kristus yang memperkuat kita.16

Setelah sembuh dari tantangan kesehatan yang serius, Penatua Rober D. Hales membagikan yang berikut di konferensi umum, “Pada beberapa kesempatan, saya memberi tahu Tuhan bahwa saya tentunya sudah menerima pelajaran-pelajaran yang perlu diajarkan dan bahwa tidak perlu bagi saya untuk menanggung penderitaan lagi. Permohonan semacam ini tampaknya tidak berfaedah, karena telah dijadikan jelas bagi saya bahwa proses pemurnian ujian ini akan mesti ditanggung dalam waktu dan dengan cara Tuhan sendiri …. Saya … belajar bahwa saya tidak akan dibiarkan sendirian untuk menemui pencobaan dan kesusahan ini namun bahwa malaikat penjaga akan mendampingi saya. Ada sebagian yang hampir seperti malaikat dalam rupa dokter, perawat, dan terutama, pasangan tercinta saya, Mary. Dan pada saat tertentu, sewaktu Tuhan menghendakinya, saya dihibur oleh kunjungan utusan surgawi yang mendatangkan penghiburan dan kepastian kekal di saat saya membutuhkannya.”17

Bapa Surgawi kita mengasihi kita dan kita tahu “bahwa barang siapa akan menaruh kepercayaannya kepada Allah akan didukung dalam pencobaan mereka, dan kesusahan mereka, dan kesengsaraan mereka, dan akan diangkat pada hari terakhir”18 Suatu hari ketika kita memasuki sisi lain dari tabir, kita ingin lebih daripada seseorang yang hanya berkata kepada kita “Baik, Anda telah selesai.” Alih-alih, kita menginginkan Tuhan berfirman, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.”19

Saya menyukai perkataan Paulus:

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? …

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”20

Saya tahu bahwa Allah hidup dan bahwa Putra-Nya, Yesus Kristus, hidup. Saya juga tahu bahwa melalui bantuan Mereka, kita dapat menjadi “lebih daripada orang-orang yang menang” dari kesusahan yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Kita dapat menjadi seperti Mereka. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

Show References

  1.  

    1. Lihat 1 Petrus 1:6–8; Abraham 3:25.

  2.  

    2. Lihat 1 Petrus 2:20.

  3.  

    3. Lihat 2 Petrus 1:4.

  4.  

    4. Lihat 2 Nefi 2:2.

  5.  

    5. Orson F. Whitney, dalam Spencer W. Kimball, Faith Precedes the Miracle (1972), 98.

  6.  

    6. Lihat Yesaya 48:10; 1 Nefi 20:10.

  7.  

    7. Lihat Alma 7:11–12.

  8.  

    8.  Ajaran dan Perjanjian 58:4.

  9.  

    9. Lihat Keluaran 14:5–30.

  10.  

    10. Lihat 1 Nefi 3–4.

  11.  

    11. Lihat Joseph Smith—Sejarah 1:15–17.

  12.  

    12. Amalie Hollenweger Amacher, sejarah yang tidak diterbitkan, disimpan pengarang.

  13.  

    13.  Ibrani 12:11.

  14.  

    14.  2 Korintus 4:17.

  15.  

    15. Lihat 2 Korintus 11:23–28.

  16.  

    16. Lihat Filipi 4:13.

  17.  

    17. Robert D. Hales, “Perjanjian Pembaptisan: Berada di dalam Kerjaan dan Bukan dari Kerajaan” Liahona, Januari 2001, 6.

  18.  

    18.  Alma 36:3.

  19.  

    19.  Matius 25:21.

  20.  

    20.  Roma 8:35, 37.