Roh Wahyu

Of the Quorum of the Twelve Apostles


David A. Bednar
Roh wahyu adalah nyata—dan dapat serta sesungguhnya berfungsi dalam kehidupan individu kita dan di dalam Gereja.

Saya menyatakan syukur atas inspirasi yang terdapat dalam seleksi nyanyian rohani yang akan mengikuti ceramah saya, “Sudahkah Kuberbuat Baik Di Dunia?” (Nyanyian Rohani, no. 101). Saya memperoleh saran.

Saya mengundang Anda untuk mempertimbangkan dua pengalaman yang semua atau sebagian besar kita miliki tentang cahaya.

Pengalaman pertama terjadi sewaktu kita memasuki ruangan gelap dan menyalakan tombol lampu. Ingat bagaimana dengan seketika cahaya terang bersinar memenuhi ruangan dan menyebabkan kegelapan menghilang. Apa yang sebelumnya tidak terlihat dan tidak menentu menjadi jelas dan dapat dikenali. Pengalaman ini ditandai dengan pengenalan cahaya secara seketika dan kuat.

Pengalaman kedua terjadi sewaktu kita memandang malam beralih menjadi pagi. Apakah Anda ingat peningkatan cahaya secara perlahan dan hampir tidak terasa di cakrawala? Berlawanan dengan menyalakan cahaya dalam ruang gelap, cahaya dari matahari terbit tidak seketika memancar. Alih-alih, secara bertahap dan teratur kekuatan cahayanya meningkat, dan kegelapan malam digantikan oleh pancaran pagi. Akhirnya, matahari muncul di atas garis langit. Namun bukti visual kemunculan matahari yang akan datang sudah tampak berjam-jam sebelum matahari sungguh-sungguh muncul di atas cakrawala. Pengalaman ini bercirikan kemunculan cahaya secara lembut dan bertahap.

Dari dua pengalaman biasa ini dengan cahaya, kita dapat belajar banyak mengenai roh wahyu. Saya berdoa Roh Kudus akan mengilhami dan memberi kita petunjuk sewaktu kita sekarang berfokus pada roh wahyu dan pola dasar yang dengannya wahyu diterima.

Roh Wahyu

Wahyu adalah komunikasi dari Allah kepada anak-anak-Nya di atas bumi dan salah satu berkat besar yang berhubungan dengan karunia dan penemanan terus-menerus dari Roh Kudus. Nabi Joseph Smith mengajarkan, “Roh Kudus adalah sang pewahyu,” dan “tidak seorang pun dapat menerima Roh Kudus tanpa menerima wahyu” (Ajaran-Ajaran Presiden Gereja: Joseph Smith [2007], 151).

Roh wahyu tersedia bagi setiap orang yang menerima melalui wewenang imamat yang pantas, tata cara keselamatan baptisan dengan pencelupan untuk pengampunan dosa dan penumpangan tangan untuk karunia Roh Kudus—dan yang bertindak dalam iman untuk menggenapi perintah keimamatan untuk “menerima Roh Kudus.” Berkat ini tidak terbatas kepada pembesar ketua Gereja; alih-alih, itu milik dan hendaknya dipergunakan dalam kehidupan setiap pria, wanita, dan anak yang telah mencapai usia pertanggungjawaban serta memasuki perjanjian sakral. Keinginan yang tulus dan kelayakan mengundang roh wahyu ke dalam kehidupan kita.

Joseph Smith dan Oliver Cowdery mendapatkan pengalaman yang berharga dengan roh wahyu sewaktu mereka menerjemahkan Kitab Mormon. Para saudara ini belajar bahwa mereka dapat menerima pengetahuan apa pun yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka jika mereka meminta dengan iman, dengan hati yang jujur, percaya bahwa mereka akan menerima. Dengan berjalannya waktu mereka semakin memahami bahwa roh wahyu umumnya berfungsi sebagai pikiran dan perasaan yang datang ke dalam benak dan hati kita melalui kuasa Roh Kudus (lihat A&P 8:1–2; 100:5–8). Sebagaimana Tuhan memberi mereka petunjuk, “Sekarang, lihatlah, inilah roh wahyu; lihatlah, inilah roh yang melaluinya Musa membawa anak-anak Israel melalui Laut Merah di atas tanah kering. Oleh karena itu inilah karuniamu; terapkanlah itu” (A&P 8:3–4).

Saya menekankan frasa “terapkanlah itu” dalam hubungan dengan roh wahyu. Dalam tulisan suci, pengaruh Roh Kudus sering kali dijabarkan sebagai “suara lembut tenang” (1 Raja-Raja 19:12;1 Nefi 17:45; 1 Nefi 17:45; lihat juga 3 Nefi 11:3) dan “suara … dengan kelembutan yang sempurna” (Helaman 5:30). Oleh karena Roh berbisik kepada kita dengan lemah dan lembut, adalah mudah untuk memahami mengapa kita harus menghindari media yang tidak pantas, pornografi, dan bahan serta perilaku yang berbahaya, yang menimbulkan ketergantungan. Peralatan lawan ini dapat merusak dan akhirnya menghancurkan kapasitas kita untuk mengenali dan menanggapi pesan halus dari Allah yang disampaikan melalui kuasa Roh-Nya. Setiap dari kita hendaknya mempertimbangkan secara serius dan merenungkan dengan penuh doa bagaimana kita dapat menolak bujukan iblis dan dengan saleh “terapkanlah itu”, bahkan roh wahyu dalam kehidupan pribadi dan keluarga kita.

Pola Wahyu

Wahyu disampaikan dalam banyak cara, termasuk, sebagai contoh: mimpi, penglihatan, pembicaraan dengan utusan surgawi, dan ilham. Sebagian wahyu diterima secara langsung dan kuat, sebagian dikenal secara bertahap dan lembut. Kedua pengalaman dengan cahaya yang saya gambarkan membantu kita untuk memahami lebih baik kedua pola dasar wahyu ini.

Suatu cahaya lampu dinyalakan dalam ruang gelap adalah seperti menerima pesan dari Allah dengan cepat, lengkap, dan semua sekaligus. Banyak dari kita telah mengalami pola wahyu ini ketika kita diberi jawaban atas doa yang khusyuk atau telah diberi arahan atau perlindungan yang diperlukan, menurut kehendak dan waktu Allah. Deskripsi dari manisfestasi yang sedemikian seketika dan kuat ditemukan dalam tulisan suci, diceritakan kembali dalam sejarah Gereja, dan terbukti dalam kehidupan kita sendiri. Sesungguhnya, mukjizat yang hebat ini terjadi. Namun, pola wahyu ini cenderung lebih jarang daripada umum.

Peningkatan bertahap dari cahaya yang terpancarkan dari matahari terbit adalah seperti menerima pesan dari Allah “baris demi baris, ajaran demi ajaran” (2 Nefi 28:30). Paling sering, wahyu datang dalam sedikit penambahan dari waktu ke waktu dan dianugerahkan menurut hasrat, kelayakan, dan persiapan kita. Komunikasi demikian dari Bapa Surgawi secara bertahap dan dengan lembut “menitik ke atas [jiwa kita] bagaikan embun dari langit” (A&P 121:45). Pola wahyu ini cenderung lebih umum daripada langka dan terbukti dalam pengalaman Nefi sewaktu dia mencoba beberapa pendekatan yang berbeda sebelum berhasil mendapatkan lempengan-lempengan kuningan Laban (lihat 1 Nefi 3–4). Puncaknya, dia dipimpin oleh Roh ke Yerusalem “tidak mengetahui sebelumnya apa yang hendaknya [dia] lakukan” (1 Nefi 4:6). Dia tidak belajar cara membangun kapal, yang merupakan pekerjaan rumit, sekaligus; alih-alih, dia telah ditunjukkan oleh Tuhan “dari waktu ke waktu menurut cara apa [dia] hendaknya mengerjakan kayu-kayu kapal itu” (1 Nefi 18:1).

Keduanya, sejarah Gereja dan kehidupan pribadi kita penuh dengan contoh dari pola Tuhan untuk menerima wahyu “baris demi baris, ajaran demi ajaran.” Sebagai contoh, kebenaran mendasar dari Injil yang dipulihkan tidaklah disampaikan kepada Nabi Joseph Smith semuanya sekaligus di Hutan Sakral. Harta tak ternilai ini diungkapkan sewaktu keadaan membutuhkannya dan sewaktu saatnya tepat.

Presiden Joseph F. Smith menerangkan bagaimana pola wahyu ini terjadi dalam kehidupannya, “Sewaktu masih anak-anak … saya sering kali … meminta kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada saya suatu hal yang menakjubkan, agar saya bisa menerima kesaksian. Namun Tuhan menahan keajaiban ini dari diri saya, dan menunjukkan kepada saya kebenaran, baris demi baris … sampai Dia membuat saya tahu kebenaran dari mahkota kepala saya sampai alas kaki saya, dan sampai keraguan serta ketakutan sepenuhnya dibersihkan dari diri saya. Dia tidak perlu mengirim malaikat dari surga untuk melakukan ini, atau pun Dia tidak harus berbicara dengan sangkakala malaikat penghulu. Melalui bisikan suara yang lembut tenang dari Roh Allah yang hidup, Dia memberi saya kesaksian yang saya miliki. Dan melalui asas dan kuasa ini, Dia akan memberikan kepada semua anak manusia pengetahuan tentang kebenaran yang akan tinggal bersama mereka, dan akan membuat mereka mengetahui kebenaran, seperti yang Allah ketahui, dan melakukan kehendak Bapa seperti yang Kristus lakukan. Manifestasi menakjubkan seberapa pun tidak akan pernah mencapai ini” (dalam Conference Report, April 1900, 40–41).

Kita sebagai anggota Gereja cenderung untuk menekankan manifestasi rohani yang menakjubkan dan dramatis sedemikian banyaknya sehingga kita mungkin gagal untuk menghargai dan bahkan melewatkan pola kebiasaan yang dengannya Roh Kudus menyelesaikan pekerjaan-Nya.”Kesederhanaan caranya” (1 Nefi 17:41) dalam menerima kesan rohani yang kecil dan bertambah, yang dengan berjalannya waktu dan dalam totalitas merupakan jawaban yang dikehendaki atau arahan yang kita perlukan, dapat menyebabkan kita untuk melihat “melampaui sasaran” (Yakub 4:14).

Saya telah berbicara dengan banyak individu yang mempertanyakan kekuatan kesaksian pribadi mereka dan meremehkan kemampuan rohani mereka karena mereka tidak menerima kesan yang sering, bersifat mukjizat, atau kuat. Mungkin sewaktu kita mempertimbangkan pengalaman Joseph di Hutan Sakral, Paulus di jalan menuju Damaskus, dan Alma yang Muda, kita akhirnya percaya ada sesuatu yang salah atau kurang dari diri kita jika hidup kita kekurangan contoh mencolok yang terkenal dan rohani ini. Bila Anda telah memiliki pemikiran dan keraguan serupa, mohon diketahui bahwa Anda cukup normal. Tetaplah maju dengan patuh dan dengan iman kepada Juruselamat. Ketika Anda melakukannya, Anda “tidak dapat pergi dengan keliru” (A&P 80:3).

Presiden Joseph F. Smith menasihati, “Tunjukkan kepada saya para Orang Suci yang harus mengandalkan mukjizat, tanda, dan penglihatan agar menjaganya tetap teguh dalam Gereja, dan saya akan menunjukkan kepada Anda para anggota … yang tidak berada dalam kedudukan yang baik di mata Allah, dan yang sedang berjalan di jalan yang licin. Bukanlah melalui manifestasi yang menakjubkan kepada kita maka kita akan diteguhkan dalam kebenaran, tetapi melalui kerendahan hati dan kepatuhan setia pada perintah-perintah dan hukum-hukum Allah (dalam Conference Report, April 1900, 40).

Pengalaman umum lain dengan cahaya membantu kita belajar kebenaran tambahan mengenai pola wahyu “baris demi baris, ajaran demi ajaran.” Terkadang matahari terbit saat pagi hari yang berawan atau berkabut. Oleh karena kondisi cuaca yang berawan, merasakan cahaya adalah lebih sulit, dan menemukan saat yang tepat ketika matahari terbit di atas cakrawala tidaklah mungkin. Namun pada pagi hari yang demikian, kita tetap memiliki cukup cahaya untuk mengenali hari yang baru dan menjalankan urusan-urusan kita.

Dengan cara yang serupa, kita sering kali menerima wahyu tanpa mengenali dengan tepat bagaimana atau kapan kita menerima wahyu. Sebuah peristiwa yang penting dalam sejarah Gereja menggambarkan asas ini.

Pada musim semi 1829, Oliver Cowdery adalah seorang guru sekolah di Palmyra, New York. Sewaktu dia belajar tentang Joseph Smith dan pekerjaan menerjemahkan Kitab Mormon, Oliver merasa terkesan untuk menawarkan bantuannya kepada Nabi yang muda tersebut. Akibatnya, dia melakukan perjalanan ke Harmony, Pennsylvania, dan menjadi juru tulis Joseph. Pemilihan waktu kedatangannya dan bantuan yang dia sediakan sangatlah penting untuk munculnya Kitab Mormon.

Juruselamat sesudah itu mengungkapkan kepada Oliver bahwa sesering dia berdoa untuk bimbingan, dia telah menerima arahan dari Roh Tuhan. “Jika tidak demikian halnya,” Tuhan menyatakan, “engkau tidak akan datang ke tempat di mana engkau berada pada waktu ini. Lihatlah, engkau mengetahui bahwa engkau telah bertanya kepada-Ku dan Aku menerangi pikiranmu; dan sekarang Aku memberi tahu engkau hal-hal ini agar engkau boleh mengetahui bahwa engkau telah diterangi dengan Roh kebenaran (A&P 6:14–15).

Maka, Oliver menerima wahyu melalui Nabi Joseph Smith menginformasikan bahwa dia telah menerima wahyu. Tampaknya, Oliver tidak mengenali bagaimana dan kapan dia telah menerima arahan dari Allah dan memerlukan petunjuk ini untuk meningkatkan pengertiannya tentang roh wahyu. Pada dasarnya, Oliver telah berjalan dalam cahaya seperti saat matahari terbit pada pagi yang berawan.

Dalam banyak ketidakpastian dan tantangan yang kita temui dalam hidup kita, Allah meminta kita agar melakukan yang terbaik, untuk bertindak dan tidak untuk ditindaki (lihat 2 Nefi 2:26), dan percaya kepada Dia. Kita mungkin tidak melihat para malaikat, mendengarkan suara dari surga, atau menerima kesan rohani yang berlebihan. Kita sering kali mungkin maju berharap dan berdoa—tetapi tanpa kepastian mutlak—bahwa kita bertindak selaras dengan kehendak Allah. Namun, sewaktu kita menghormati perjanjian-perjanjian kita dan menaati perintah-perintah, sewaktu kita berusaha lebih konsisten untuk melakukan kebaikan dan menjadi lebih baik, kita dapat berjalan dengan keyakinan bahwa Allah akan membimbing langkah-langkah kita. Kemudian kita dapat berbicara dengan keyakinan bahwa Allah akan mengilhami ucapan kita. Ini sebagiannya merupakan arti dari tulisan suci yang menyatakan, “Maka rasa percayamu akan menjadi kuat di hadapan Allah” (A&P 121:45).

Ketika Anda dengan pantas mencari dan menerapkan roh wahyu, saya berjanji Anda akan “berjalan di dalam terang Tuhan” (Yesaya 2:5; 2 Nefi 12:5). Kadang-kadang roh wahyu akan bekerja secara seketika dan kuat, di lain waktu secara lembut dan bertahap, dan sering demikian lembutnya sehingga Anda bahkan mungkin tidak secara sadar mengenalinya. Tetapi terlepas dari pola yang dengannya berkat ini diterima, cahaya yang disediakannya akan memancar dan memperbesar jiwa Anda, menerangi pengertian Anda (lihat Alma 5:7; Alma 32:28), dan mengarahkan serta melindungi Anda beserta keluarga Anda.

Saya menyatakan kesaksian kerasulan saya bahwa Bapa dan Putra hidup. Roh wahyu adalah nyata—dan dapat serta sesungguhnya berfungsi dalam kehidupan individu kita dan di dalam Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir. Saya bersaksi akan kebenaran-kebenaran ini dalam nama sakral Tuhan Yesus Kristus, amin.