Jadilah Lembut Hati dan Rendah Hati

Oleh Penatua Ulisses Soares

Dari Presidensi Tujuh Puluh


Ulisses Soares
Menjadi lembut hati bukan berarti kelemahan, namun itu berarti bertindak dengan kebaikan dan kemurahan hati.

Mormon mengajarkan bahwa seseorang “tidak dapat memiliki iman dan harapan, kecuali dia akan lembut hati, dan rendah hati.”1 He menambahkan bahwa tanpa sifat-sifat seperti itu, “iman dan harapan adalah sia-sia, karena tak seorang pun dapat diterima di hadapan Allah, kecuali yang lembut hati dan rendah hati.”2

Kelembutan hati adalah sifat mereka yang “takut akan Allah, saleh, rendah hati, mudah diajar, dan sabar di bawah penderitaan.”3 Mereka yang memiliki sifat-sifat bersedia untuk mengikuti Yesus Kristus adalah tenang, patuh, toleran, tunduk, dan sabar.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa kelembutan hati adalah buah Roh.4 Karenanya itu paling mudah diperoleh jika kita “hidup oleh Roh.”5 Dan untuk hidup oleh Roh, gaya hidup kita haruslah mencerminkan kesalehan di hadapan Tuhan.

Sewaktu kita mengambil nama Kristus ke atas diri kita, adalah diharapkan agar kita berupaya untuk meniru sifat-sifat-Nya dan mengubah karakter kita untuk menjadi lebih seperti Dia setiap hari. Juruselamat, menasihati para murid-Nya, berfirman, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”6 Jika kita “datang kepada Kristus, … menyangkal [diri kita] dari segala kebathilan; … dan mengasihi Allah” maka melalui kasih karunia Kristus harinya akan tiba ketika kita dapat disempurnakan di dalam Dia.7

“Sifat-sifat Kristus adalah karunia dari Allah. [Sifat-sifat ini] datang ketika [kita] menggunakan hak pilihan [kita] dengan benar .… Dengan suatu keinginan untuk menyenangkan Allah, [kita harus] mengenali kelemahan-kelemahan [kita] serta bersedia dan bersemangat untuk memperbaiki diri.”8

Kelembutan hati adalah penting bagi kita untuk menjadi lebih seperti Kristus. Tanpa ini kita tidak akan dapat mengembangkan nilai-nilai penting lainnya. Menjadi lembut hati bukan berarti kelemahan, namun itu berarti bertindak dengan kebaikan dan kemurahan hati, memperlihatkan kekuatan, ketenangan, nilai diri yang sehat, dan kendali diri.

Kelembutan hati adalah salah satu sifat-sifat yang paling melimpah dalam kehidupan Juruselamat. Dia Sendiri, mengajar para murid-Nya, “Belajarlah pada-Ku; karena Aku lemah lembut dan rendah hati.”9

Kita diberkati untuk terlahir dengan benih-benih kelembutan hati dalam hati kita. Kita perlu memahami bahwa adalah mustahil untuk menumbuhkan dan mengembangkan benih itu sekejab mata namun itu melalui proses waktu. Kristus meminta kita untuk “memikul salib [kita] setiap hari,”10 itu haruslah menjadi fokus dan hasrat yang konstan.

Presiden Lorenzo Snow, nabi kelima dari dispensasi kita mengajarkan, “Adalah tugas kita untuk berusaha untuk menjadi sempurna, … untuk meningkat setiap hari, dan melihat pada jalan kita minggu lalu dan melakukan hal-hal lebih baik minggu ini; melakukan hal-hal lebih baik hari ini daripada yang kita lakukan kemarin.”11 Oleh karena itu, langkah pertama untuk menjadi lembut hati adalah meningkat hari demi hari. Setiap hari kita perlu berusaha untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya sewaktu kita maju terus melalui proses ini.

Presiden Snow menambahkan:

“Kita memiliki sedikit tindakan bodoh kita dan kelemahan kita; kita hendaknya mencoba untuk mengatasinya secepat mungkin, dan … hendaknya [menanamkan] perasaan ini dalam hati anak-anak kita … agar mereka boleh belajar untuk membawa diri mereka dengan pantas di hadapan-Nya dalam segala keadaan.

Jika suami dapat hidup dengan istrinya satu hari tanpa bertengkar atau tanpa memperlakukan siapa pun dengan tidak baik atau tanpa memilukan Roh Allah … ; dia sejauh ini sempurna. Kemudian biarkan dia mencoba untuk menjadi sama hari berikutnya. Tetapi sekiranya dia gagal dalam usahanya ini pada hari berikutnya, tidaklah ada alasan mengapa dia tidak akan berhasil dalam melakukannya pada hari ketiga.”12

Dengan mengenali dedikasi dan kesabaran kita, Tuhan akan memberi kita apa yang tidak mampu kita peroleh karena ketidaksempurnaan kita dan kelemahan manusiawi kita.

Langkah penting lain untuk menjadi lembut hati adalah belajar bagaimana mengendalikan emosi kita. Karena manusia alami tinggal di dalam diri kita masing-masing dan karena kita hidup di dunia yang penuh tekanan, mengendalikan emosi kita mungkin menjadi salah satu tantangan dalam kehidupan kita. Pikirkan sejenak bagaimana Anda bereaksi ketika seseorang tidak selaras dengan keinginan Anda pada saat Anda menginginkannya. Bagaimana dengan ketika orang tidak setuju dengan gagasan Anda, meskipun Anda benar-benar yakin bahwa itu mewakili solusi yang tepat terhadap sebuah masalah? Apa respons Anda ketika seseorang menyinggung perasaan Anda, mengkritik upaya Anda, atau sekadar bersikap tidak ramah karena dia sedang risau? Pada momen-momen ini dan dalam situasi-situasi sulit lain, kita harus belajar mengendalikan emosi kita dan menyatakan perasaan kita dengan kesabaran serta persuasi yang lembut. Ini paling penting di dalam keluarga kita dan di dalam hubungan kita dengan rekan kekal kita. Selama 31 tahun saya telah menikah dengan pujaan hati saya, dia sering memberi saya pengingat “lembut” akan hal ini sewaktu kami menghadapi tantangan-tantangan yang mengganggu kehidupan.

Di antara petunjuk yang terdapat dalam Surat Kedua kepada Timotius, Rasul Paulus berkata:

“Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar,

dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran;

Dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali.”13

Dengan mengendalikan reaksi-reaksi kita, menjadi tenang dan sabar, serta menghindari perselisihan, kita akan menjadi memenuhi syarat untuk karunia kelembutan hati. Presiden Henry B. Eyring pernah menyatakan, “Ketika kita dengan iman mengendalikan emosi kita dan menaklukkan kesombongan kita, Roh Kudus akan memberikan persetujuan-Nya, serta janji-janji dan perjanjian-perjanjian sakral menjadi pasti.”14

Langkah lainnya untuk memperoleh kelembutan hati adalah dengan menjadi rendah hati. Tuhan memerintahkan Thomas B. Marsh melalui Nabi Joseph Smith, berfirman, “Jadilah engkau rendah hati; dan Tuhan Allahmu akan menuntun tanganmu, dan memberi engkau jawaban terhadap doa-doamu.”15

Saya percaya, brother dan sister, bahwa hanya mereka yang rendah hati dapat mengenali dan memahami jawaban Tuhan terhadap doa-doa mereka. Mereka yang rendah hati adalah mudah diajar, mengenali betapa mereka bergantung kepada Allah dan berhasrat untuk tunduk pada kehendak-Nya. Mereka yang rendah hati adalah lembut hati dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Janji Allah kepada yang rendah hati adalah bahwa Dia akan menuntun tangan mereka. Saya sungguh percaya bahwa kita akan menghindari jalan-jalan memutar dan kesedihan dalam kehidupan kita sejauh kita berjalan beriringan dengan Tuhan.

Salah satu contoh tentang kelembutan hati zaman modern paling indah yang saya ingat adalah tentang keinsafan Brother Moses. Keinsafannya diawali di tahun 1964 ketika dia menerima sejilid Kitab Mormon. Dia takjub sewaktu dia membaca kitab ini, namun tidak sampai awal tahun 70-an dimana dia melihat sebuah tanda Gereja OSZA di sebuah gedung di Johanesburg, Afrika Selatan, sewaktu dia berjalan menyusuri jalan. Brother Mahlangu tergoda dan memasuki gedung itu untuk mengetahui lebih banyak tentang Gereja. Dia dengan ramah memberitahukan bahwa dia tidak dapat menghadiri kebaktian atau dibaptiskan karena undang-undang negara tidak mengizinkannya pada waktu itu.

Brother Mahlangu menerima keputusan itu dengan kelembutan hati, kerendahhatian, dan tanpa kemarahan, namun dia tetap memiliki hasrat yang kuat untuk belajar lebih banyak tentang Gereja. Dia bertanya kepada para pemimpin Gereja apakah mereka dapat membiarkan satu jendela gedung pertemuan terbuka selama pertemuan hari Minggu sehingga dia dapat duduk di luar dan mendengarkan kebaktian. Selama beberapa tahun, Keluarga Brother Mahlangu serta teman-temannya menghadiri Gereja secara rutin “melalui jendela.” Suatu hari pada tahun 1980 mereka diberi tahu bahwa mereka dapat menghadiri Gereja dan juga dibaptiskan. Sungguh itu hari yang menakjubkan bagi Brother Mahlangu.

Belakangan, Gereja mengorganisasi sebuah cabang di lingkungan huninya di Soweto. Ini hanya dimungkinkan karena tekad, keberanian, dan kesetiaan dari orang-orang seperti Brother Mahlangu yang tetap beriman selama bertahun-tahun dalam keadaan-keadaan sulit.

Salah satu teman Brother Mahlangu, yang telah bergabung dengan Gereja pada saat yang sama, menceritakan kembali kisah ini kepada saya ketika saya mengunjungi pasak Soweto. Di akhir percakapan kami, dia memeluk saya. Pada saat itu, brother dan sister, saya merasa seolah-olah saya dipeluk dalam lengan penuh kasih Juruselamat. Kelembutan hati memancar dari mata brother yang baik hati ini. Dengan kebaikan sepenuh hati serta rasa syukur yang dalam, dia menanyakan apakah saya dapat menyampaikan kepada Presiden Thomas S. Monson betapa bersyukur dan diberkatinya dia dan banyak yang lainnya karena memiliki Injil sejati dalam kehidupan mereka. Teladan Brother Mahlangu dan teman-temannya akan kelembutan hati benar-benar mempengaruhi banyak kehidupan demi kebaikan—terutama kehidupan saya.

Brother dan sister, saya percaya Juruselamat Yesus Kristus adalah teladan sempurna kelembutan hati. Bahkan selama momen-momen terakhir kehidupan fana-Nya, yang secara tidak adil dituduh dan dihukum, dengan penuh kesakitan membawa salib-Nya ke Golgota, dicemooh dan dihina oleh musuh-musuh-Nya, ditinggalkan oleh banyak yang mengenal Dia dan telah melihat mukjizat-mukjizat-Nya, Dia dipaku di atas kayu salib.

Bahkan setelah penderitaan fisik yang paling intens, Tuhan berpaling kepada Bapa-Nya dan berbicara dari lubuk hati-Nya yang lemah lembut dan rendah hati: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”16 Kristus menghadapi penderitaan fisik dan rohani yang ekstrem, yang memberi kita kesempatan untuk mengubah karakter rohani kita dan menjadi lemah lembut seperti Dia.

Saya memberikan kesaksian saya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat kita. Saya bersaksi kepada Anda bahwa, bersyukur untuk kasih-Nya, adalah mungkin untuk berubah. Adalah mungkin untuk meninggalkan kelemahan-kelemahan kita. Adalah mungkin untuk menolak pengaruh-pengaruh jahat dalam kehidupan kita, mengendalikan emosi kita, menjadi lembut hati, dan mengembangkan sifat-sifat dari Juruselamat kita. Dia menunjukkan jalan kepada kita. Dia memberikan kepada kita teladan sempurna dan memerintahkan kita masing-masing untuk menjadi seperti Dia. Undangan-Nya kepada kita adalah untuk mengikuti Dia, mengikuti teladan-Nya, dan menjadi seperti Dia. Mengenai kebenaran-kebenaran ini, saya memberikan kesaksian dalam nama sakral-Nya, yaitu Yesus Kristus, amin.

Show References

  1.  

    1. Moroni 7:43.

  2.  

    2. Moroni 7:44.

  3.  

    3. Penuntun bagi Tulisan Suci, “Lembut Hati, Kelembutan,” scriptures.lds.org.

  4.  

    4. Lihat Galatia 5:22–23.

  5.  

    5. Galatia 5:25.

  6.  

    6. Matius 5:48.

  7.  

    7. Moroni 10:32.

  8.  

    8. Mengkhotbahkan Injil-Ku: Buku Panduan untuk Pelayanan Misionaris (2004), 115.

  9.  

    9. Matius 11:29.

  10.  

    10. Lukas 9:23.

  11.  

    11. Lorenzo Snow, dalam Conference Report, April 1898, 13.

  12.  

    12. Ajaran-Ajaran Presiden Gereja: Lorenzo Snow (2012), 113, 114.

  13.  

    13. 2 Timotius 2:24–26.

  14.  

    14. Henry B. Eyring, “Keluarga dalam Perjanjian,” Liahona, Mei 2012, 65.

  15.  

    15. Ajaran dan Perjanjian 112:10.

  16.  

    16. Lukas 23:34.