Menanggung Beban Mereka dengan Mudah


David A. Bednar
Beban yang unik dalam setiap kehidupan kita membantu kita untuk bersandar pada jasa, belas kasihan, dan kasih karunia Mesias Yang Kudus.

Saya mempunyai seorang teman baik yang, di awal tahun pernikahannya, merasa yakin dia membutuhkan truk pikap empat gardan. Istrinya merasa yakin bahwa dia tidak membutuhkannya namun hanya menginginkan kendaraan baru. Sebuah percakapan lucu antara suami dan istri mengawali pertimbangan mereka tentang keuntungan dan kerugian dari pembelian tersebut.

“Sayang, kita memerlukan truk pikap empat gardan.

Istrinya bertanya, “Mengapa menurutmu kita memerlukan sebuah pikap baru?”

Dia menjawab pertanyaannya dengan apa yang dia percaya adalah respons yang sempurna: “Bagaimana jika kita memerlukan susu untuk anak-anak kita di tengah badai yang dahsyat, dan satu-satunya cara saya dapat pergi ke toko adalah dengan sebuah pikap?”

Istrinya menjawab sambil tersenyum, “Jika kita membeli sebuah pikap baru, kita tidak akan memiliki uang untuk susu—jadi, kenapa khawatir mengenai pergi ke toko dalam keadaan darurat!”

Seiring waktu mereka terus berembuk bersama dan akhirnya memutuskan untuk membeli pikap. Tidak lama setelah memiliki kendaraan baru itu, teman saya ingin menunjukkan kegunaan pikap tersebut dan mengesahkan alasan dia karena ingin membelinya. Maka dia memutuskan dia akan memotong dan mengangkut pasokan kayu bakar untuk rumah mereka. Itu adalah musim gugur tahun itu, dan salju sudah mulai turun di pegunungan di mana dia bermaksud mencari kayu. Sewaktu dia berkendara di sisi pegunungan, salju berangsur-angsur menjadi semakin dalam. Teman saya menyadari kondisi jalan yang licin adalah berbahaya, namun dengan keyakinan kuat terhadap pikap yang baru, dia melanjutkan.

Sayangnya, teman saya pergi terlalu jauh di sepanjang jalan bersalju. Ketika dia mengemudi pikap keluar dari jalan raya di tempat di mana dia memutuskan untuk memotong kayu, dia terjebak. Keempat roda pada pikap tersebut berputar-putar di dalam salju. Dia segera menyadari bahwa dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkan dirinya dari situasi berbahaya ini. Dia merasa malu dan khawatir.

Teman saya memutuskan, “Baik, saya tidak akan duduk saja di sini.” Dia keluar dari kendaraan itu dan mulai memotong kayu. Dia selesai memenuhi bagian belakang pikap dengan muatan berat. Dan kemudian teman saya memutuskan dia akan mencoba mengemudi keluar dari salju sekali lagi. Sewaktu dia menghidupkan mesin dan memberikan daya, dia mulai maju sedikit. Perlahan pikap bergerak keluar dari salju dan kembali ke jalan raya. Dia akhirnya bebas pulang ke rumah, pria yang bahagia dan rendah hati.

Beban Individu Kita

Saya memohon bantuan Roh Kudus sewaktu saya menekankan pelajaran vital yang dapat dipelajari dari kisah tentang teman saya, pikap, dan kayu. Itu adalah beban. Beban kayulah yang memberikan daya penarik yang diperlukan olehnya untuk keluar dari salju, untuk kembali ke jalan raya, dan untuk bergerak maju. Adalah beban itu yang memungkinkan dia kembali kepada keluarganya dan rumahnya.

Kita masing-masing juga membawa beban. Beban individu kita adalah terdiri dari tuntutan dan kesempatan, kewajiban dan privilese, kesengsaraan dan berkat, serta pilihan dan batasan. Dua pertanyaan yang membimbing dapat membantu ketika kita secara periodik dan bersungguh-sungguh mengevaluasi beban kita: “Apakah beban yang saya bawa menghasilkan daya penarik rohani yang akan memungkinkan saya maju terus dengan iman kepada Kristus di jalan yang sesak dan sempit serta terhindar dari terjebak? Apakah beban yang saya bawa menciptakan daya penarik rohani yang cukup sehingga saya akhirnya dapat kembali ke rumah kepada Bapa Surgawi?”

Terkadang kita secara keliru mungkin memercayai bahwa kebahagiaan adalah hilangnya beban. Namun menanggung beban adalah bagian yang diperlukan dan penting dari rencana kebahagiaan. Karena beban individu kita perlu untuk menghasilkan daya penarik rohani, kita hendaknya berhati-hati untuk tidak menyertakan dalam kehidupan kita begitu banyak hal-hal yang indah namun tidak penting sehingga kita terganggu dan teralihkan dari hal-hal yang benar-benar paling penting.

Kuasa yang Menguatkan dari Pendamaian

Juruselamat berfirman:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:28–30).

Kuk adalah balok kayu, biasanya dipasang di antara sepasang lembu atau binatang lainnya yang memungkinkan mereka menarik beban bersama. Kuk menempatkan binatang berdampingan agar mereka dapat bergerak bersama untuk menyelesaikan sebuah tugas.

Perhatikan ajakan individu Tuhan yang unik untuk “pikullah kuk yang Kupasang.” Membuat dan menaati perjanjian-perjanjian menggabungkan kita dengan Tuhan Yesus Kristus. Intinya, Juruselamat mengundang kita untuk bersandar dan menarik bersama-sama dengan Dia, meski pun upaya terbaik kita tidaklah sepadan dan tidak dapat dibandingkan dengan-Nya. Sewaktu kita percaya kepada dan menarik beban kita bersama dengan-Nya di sepanjang perjalanan kefanaan, sungguh kuk-Nya itu enak, dan beban-Nya itu ringan.

Kita tidak dan tidak pernah perlu sendirian. Kita dapat maju terus dalam kehidupan sehari-hari kita dengan bantuan surgawi. Melalui Pendamaian Juruselamat kita dapat menerima kemampuan dan kekuatan “melampaui diri [kita] sendiri” (“Lord, I Would Follow Thee,” Hymns, no. 220). Sewaktu Tuhan menyatakan, “Oleh karena itu, lanjutkanlah perjalananmu dan biarlah hatimu bersukacita; karena lihatlah, dan tengoklah, Aku besertamu bahkan sampai akhir” (A&P 100:12).

Pikirkan teladan dalam Kitab Mormon ketika Amulon menganiayai Alma dan rakyatnya. Suara Tuhan datang kepada para murid ini dalam kesengsaraan mereka: “Angkatlah kepalamu dan terhiburlah, karena aku tahu tentang perjanjian yang telah kamu buat kepada-Ku; dan Aku akan membuat perjanjian dengan umat-Ku dan membebaskan mereka dari perbudakan” (Mosia 24:13).

Perhatikan sentralisasi perjanjian kepada janji pembebasan. Perjanjian yang diterima dan dihargai dengan integritas dan tata cara yang dilaksanakan dengan wewenang imamat yang tepat adalah penting untuk menerima semua berkat yang tersedia melalui Pendamaian Yesus Kristus. Karena dalam tata cara imamat, kuasa ke-Allahan dinyatakan kepada pria dan wanita dalam daging, termasuk berkat-berkat dari Pendamaian (lihat A&P 84:2–21).

Ingatlah pernyataan Juruselamat “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:30), ketika kita memikirkan ayat berikutnya dalam kisah Alma dan rakyatnya.

“Dan Aku akan juga meringankan beban yang ditaruh di atas bahumu, sehingga bahkan kamu tidak dapat merasakannya di atas punggungmu” (Mosia 24:14).

Banyak di antara kita yang menganggap ayat ini adalah gagasan bahwa sebuah beban secara tiba-tiba dan secara permanen akan dilenyapkan. Ayat berikutnya, bagaimana pun, menggambarkan betapa beban itu diringankan.

“Dan sekarang, terjadilah bahwa beban yang diletakkan ke atas diri Alma dan saudara-saudaranya dijadikan ringan; ya, Tuhan menguatkan mereka, agar mereka dapat menanggung beban mereka dengan mudah, dan mereka tunduk dengan riang dan dengan kesabaran pada segala kehendak Tuhan.” (Mosia 24:15; penekanan ditambahkan).

Tantangan dan kesulitan tidak secara segera disingkirkan dari orang-orang. Tetapi Alma dan pengikutnya dikuatkan, dan kapasitas mereka yang bertambah membuat beban itu lebih ringan. Orang-orang baik ini diberi kuasa melalui Pendamaian untuk bertindak sebagai juru kuasa (lihat A&P 58:26–29) dan memengaruhikeadaan mereka. Dan “dengan kekuatan Tuhan” (Kata-Kata Mormon 1:14; Mosia 9:17; 10:10; Alma 20:4), Alma dan rakyatnya diarahkan kepada keselamatan di tanah Zarahemla.

Tidak saja Pendamaian Yesus Kristus mengatasi dampak dari Kejatuhan Adam dan memungkinkan penebusan dari dosa dan pelanggaran individu kita, namun Pendamaian-Nya juga memungkinkan kita untuk melakukan kebaikan menjadi lebih baik dalam cara-cara yang menjangkau jauh melampaui kapasitas fana kita. Kebanyakan dari kita mengetahui bahwa ketika kita melakukan hal yang salah dan memerlukan bantuan untuk mengatasi dampak dari dosa dalam kehidupan kita, Juruselamat telah memungkinkan bagi kita untuk menjadi bersih melalui kuasa penebusan-Nya. Namun apakah kita juga memahami bahwa Pendamaian adalah bagi pria dan wanita saleh yang patuh, layak, dan sadar dalam menaati perintah serta mereka yang berusaha untuk menjadi lebih baik dan melayani dengan lebih setia? Saya bertanya-tanya apakah kita gagal sepenuhnya mengakui aspek yang menguatkan dari Pendamaian ini dalam kehidupan kita dan secara keliru memercayai kita harus membawa beban kita sendirian—melalui tekad kita sendiri, kemauan, dan disiplin serta kapasitas kita yang tentu saja terbatas.

Satu hal untuk diketahui bahwa Yesus Kristus datang ke dunia untuk mati bagi kita. Tetapi kita juga perlu mengapresiasi bahwa Tuhan berhasrat, melalui Pendamaian-Nya dan dengan kuasa dari Roh Kudus, untuk menyegarkan kita—bukan hanya untuk membimbing tetapi juga memperkuat dan menyembuhkan kita.

Juruselamat Menyokong Umat-Nya

Alma menjelaskan mengapa dan bagaimana Juruselamat dapat memampukan kita:

“Dan Dia akan maju, menderita rasa sakit dan kesengsaraan dan cobaan dari setiap jenis; dan ini agar firman boleh digenapi yang mengatakan Dia akan mengambil ke atas diri-Nya rasa sakit dan penyakit umat-Nya.

Dan Dia akan mengambil ke atas diri-Nya kematian, agar Dia boleh melepaskan ikatan kematian yang mengikat umat-Nya; dan Dia akan mengambil ke atas diri-Nya kelemahan mereka, agar sanubari-Nya boleh dipenuhi dengan belas kasihan, secara daging, agar Dia boleh mengetahui secara daging bagaimana menyokong umat-Nya menurut kelemahan mereka” (Alma 7:11‒12).

Demikian, Juruselamat telah menderita bukan hanya untuk dosa-dosa kita dan kedurhakaan—tetapi juga untuk rasa sakit fisik dan kepedihan kita, kelemahan dan kekurangan kita, ketakutan dan rasa frustasi kita, kekecewaan dan rasa putus asa kita, penyesalan dan prihatin, ketidakadilan dan ketimpangan yang kita alami, dan kesesakan emosional yang menghantui kita.

Tidak ada rasa sakit fisik, luka rohani, tidak ada kepedihan jiwa atau sakit hati, tidak ada kelemahan atau kekurangan yang Anda atau saya pernah hadapi dalam kefanaan yang Juruselamat tidak alami terlebih dahulu. Di saat lemah kita mungkin berseru, “Tak seorang pun tahu seperti apa rasanya. Tak seorang pun memahami.” Tetapi Putra Allah secara sempurna mengetahui dan memahami, karena Dia telah merasakan dan menanggung beban individu. Dan karena pengurbanan-Nya yang tak terbatas dan kekal (lihat Alma 34:14), Dia memiliki empati sempurna dan dapat mengulurkan kepada kita lengan belas kasih-Nya. Dia dapat menjangkau, menyentuh, menyokong, menyembuhkan, dan memperkuat kita untuk menjadi lebih dari yang kita mampu dan membantu kita melakukan apa yang kita tidak pernah dapat lakukan dengan hanya bergantung pada kekuatan kita sendiri. Tentu saja, kuk-Nya enak dan beban-Nya ringan.

Sebuah Ajakan, Janji, dan Kesaksian

Saya mengajak Anda untuk menelaah, berdoa, merenungkan, dan berusaha untuk mempelajari lebih lanjut mengenai Pendamaian Juruselamat sewaktu Anda mengevaluasi beban individu Anda. Banyak hal mengenai Pendamaian yang kita tidak dapat pahami dengan pemikiran fana kita. Namun banyak aspek dari Pendamaian dapat dan perlu untuk kita pahami.

Bagi teman saya, muatan kayu memberikan daya penarik yang menyelamatkan kehidupan. Pikap yang kosong tidak dapat bergerak melewati salju, meski dilengkapi dengan empat gardan. Muatan yang berat diperlukan untuk menghasilkan daya penarik.

Adalah muatan itu. Adalah muatan itu yang memberikan daya penarik yang memungkinkan teman saya keluar dari jebakan, untuk kembali ke jalan raya, untuk maju terus, dan untuk kembali kepada keluarganya.

Beban yang unik dalam setiap kehidupan kita membantu kita untuk bersandar pada jasa, belas kasihan, dan kasih karunia Mesias Yang Kudus (lihat 2 Nefi 2:8). Saya bersaksi dan berjanji Juruselamat akan membantu kita untuk menanggung beban kita dengan mudah (lihat Mosia 24:15). Ketika kita tergabung dengan-Nya melalui perjanjian sakral dan menerima kuasa yang memungkinkan dari Pendamaian-Nya dalam kehidupan kita, kita secara meningkat akan berusaha untuk memahami dan hidup sesuai kehendak-Nya. Kita juga akan berdoa untuk kekuatan untuk belajar dari, berubah, atau menerima keadaan kita alih-alih berdoa tanpa henti agar Allah mengubah keadaan kita sesuai dengan kehendak kita. Kita akan menjadi juru kuasa yang bertindak alih-alih objek yang ditindaki (lihat 2 Nefi 2:14). Kita akan diberkati dengan daya penarik rohani.

Semoga kita masing-masing melakukan dan menjadi lebih baik melalui Pendamaian Juruselamat. Hari ini tanggal 6 April. Kita tahu melalui wahyu bahwa hari ini adalah hari yang aktual dan akurat tentang kelahiran Juruselamat. Tanggal 6 April juga adalah hari ketika Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir diorganisasi (lihat A&P 20:1; Harold B. Lee, “Strengthen the Stakes of Zion,” Ensign, Juli 1973, 2; Spencer W. Kimball, “Why Call Me Lord, Lord, and Do Not the Things Which I Say?” Ensign, Mei 1975, 4; Spencer W. Kimball, “Remarks and Dedication of the Fayette, New York, Buildings,” Ensign, Mei 1980, 54; Discourses of President Gordon B. Hinckley, Jilid 1: 1995–1999 [2005], 409). Pada Sabat istimewa dan sakral ini, saya menyatakan kesaksian saya bahwa Yesus Kristus adalah Penebus kita. Dia hidup dan akan membersihkan, menyembuhkan, membimbing, melindungi, dan menguatkan kita. Mengenai hal-hal ini saya dengan penuh sukacita bersaksi dalam nama sakral Yesus Kristus, amin.