“Jikalau Kamu Mengasihi Aku, Kamu Akan Menuruti Segala Perintah-Ku”


Robert D. Hales
Menggunakan hak pilihan kita untuk patuh artinya memilih untuk “melakukan apa yang benar [dan membiarkan] konsekuensinya mengikuti.”

Brother dan sister, dari semua pelajaran yang kita pelajari dari kehidupan Juruselamat, tidak ada yang lebih jelas dan kuat daripada pelajaran tentang kepatuhan.

Teladan Juruselamat

Dalam Sidang prafana di Surga, Lusifer memberontak terhadap rencana Bapa Surgawi. Mereka yang mengikuti Lusifer mengakhiri kemajuan kekal mereka—berhati-hatilah siapa yang Anda ikuti!

Kemudian Yesus menyatakan komitmen-Nya untuk patuh, mengatakan, “Bapa, kehendak-Mu jadilah, dan kemuliaan adalah milik-Mu selamanya.”1 Di sepanjang pelayanan-Nya, “Dia menderita godaan tetapi tidak mengindahkannya.”2 Sungguh, “Dia [belajar] menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.”3

Karena Juruselamat kita patuh, Dia menebus dosa-dosa kita, yang memungkinkan kebangkitan kita serta mempersiapkan jalan bagi kita untuk kembali kepada Bapa Surgawi kita, yang mengetahui kita akan melakukan kesalahan sewaktu kita belajar kepatuhan dalam kefanaan. Ketika kita patuh, kita menerima pengurbanan-Nya, karena kami percaya bahwa melalui Pendamaian Yesus Kristus, seluruh umat manusia boleh diselamatkan, melalui kepatuhan pada hukum, tata cara Injil, dan perintah-perintah yang diberikan dalam Injil.4

Yesus mengajarkan kepada kita untuk patuh dalam bahasa yang sederhana yang mudah dipahami: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku,”5 dan “Ikutlah Aku.”6

Ketika kita dibaptiskan, kita “mengambil ke atas diri [kita] nama Kristus” dan masuk “ke dalam perjanjian dengan Allah bahwa [kita] hendaknya patuh sampai akhir hidup [kita].”7 Setiap minggu kita memperbarui perjanjian baptisan itu dengan mengambil sakramen dan bersaksi bahwa kita bersedia untuk menaati perintah-perintah. Kita mencari pengampunan untuk pemikiran, perasaan, atau tindakan apa pun yang tidak selaras dengan kehendak Bapa Surgawi kita. Sewaktu kita bertobat dengan berpaling dari ketidakpatuhan dan dengan mulai untuk patuh lagi, kita menunjukkan kasih kita bagi-Nya.

Jenis-Jenis Kepatuhan

Sewaktu kita menjalankan Injil, kita maju dalam pemahaman kita tentang kepatuhan. Terkadang kita mungkin tergoda untuk melakukan apa yang saya sebut “kepatuhan manusia alami,” di mana kita secara tidak patuh menolak hukum Allah untuk mendukung kebijaksanaan sendiri dan hasrat kita atau bahkan kepopuleran. Karena ini secara luas dilakukan oleh begitu banyak orang, penyimpangan terhadap kepatuhan ini mengurangi standar-standar Allah dalam budaya kita dan dalam hukum kita.

Terkadang para anggota mungkin berperan serta dalam “kepatuhan selektif,” mengaku mengasihi Allah dan menghormati Allah sementara mengambil serta memilih mana dari perintah-perintah dan ajaran-ajaran-Nya—dan ajaran serta nasihat dari para nabi-Nya—akan mereka ikuti sepenuhnya.

Beberapa orang mematuhi secara selektif karena mereka tidak dapat memahami semua alasan untuk sebuah perintah, sama seperti anak-anak tidak selalu memahami alasan untuk nasihat dan peraturan-peraturan orangtua mereka. Namun kita selalu tahu alasan kita mengikuti para nabi, karena ini adalah Gereja Yesus Kristus, dan Juruselamatlah yang mengarahkan para nabi-Nya dalam segala dispensasi.

Sewaktu pemahaman kita tentang kepatuhan semakin mendalam, kita mengenali pentingnya peran hak pilihan. Ketika Yesus di Taman Getsemani, Dia berdoa tiga kali kepada Bapa-Nya yang di Surga, mengatakan, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”8 Allah tidak mengambil hak pilihan Juruselamat, namun Dia dengan penuh belas kasihan mengutus seorang malaikat untuk menguatkan Putra Terkasih-Nya.

Juruselamat menghadapi ujian lain di Golgota, di mana Dia bisa saja memanggil pasukan para malaikat untuk menurunkan-Nya dari atas salib, namun Dia membuat pilihan-Nya sendiri untuk secara patuh bertahan sampai akhir dan menuntaskan kurban pendamaian-Nya, meskipun itu artinya penderitaan besar, bahkan kematian.

Kepatuhan yang matang secara rohani adalah “kepatuhan Juruselamat.” Itu termotivasi oleh kasih sejati bagi Bapa Surgawi dan Putra-Nya. Ketika kita bersedia patuh, sebagaimana yang Juruselamat lakukan, kita menghargai firman Bapa Surgawi kita: “Inilah Putra-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”9 Dan kita menantikan untuk mendengar, setelah memasuki hadirat Bapa Surgawi kita, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; … masuklah … turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”10

Menggunakan hak pilihan kita untuk patuh artinya memilih untuk “melakukan apa yang benar [dan membiarkan] konsekuensinya mengikuti.”11 Itu memerlukan penguasaan diri dan mendatangkan keyakinan diri, kebahagiaan kekal, dan perasaan puas bagi kita serta, melalui teladan, kepada mereka yang di sekitar kita; dan itu selalu mencakup komitmen pribadi yang mendalam untuk mendukung para pemimpin dan mengikuti ajaran serta nasihat mereka.

Konsekuensi

Dalam memilih apakah kita akan patuh, adalah selalu berguna untuk mengingat konsekuensi dari pilihan kita. Apakah Lusifer dan para pengikutnya memahami konsekuensi dari memilih untuk menolak rencana Bapa Surgawi? Jika demikian, mengapa mereka membuat pilihan yang sedemikian buruk? Kita dapat mengajukan kepada diri kita pertanyaan serupa: mengapa ada di antara kita yang memilih untuk tidak patuh ketika kita mengetahui konsekuensi kekalnya adalah dosa? Tulisan suci menyediakan jawabannya: alasan Kain dan beberapa anak Adam dan Hawa memilih untuk tidak patuh karena “mereka lebih mengasihi Setan lebih daripada Allah.”12

Kasih kita bagi Juruselamat adalah kunci pada kepatuhan seperti Juruselamat. Sewaktu kita berusaha untuk patuh di dunia zaman sekarang, kita menyatakan kasih dan rasa hormat kita bagi semua anak Bapa Surgawi. Namun adalah mustahil untuk rasa kasih kepada sesama ini untuk memodifikasi perintah-perintah Allah, yang diberikan demi kebaikan kita! Contohnya, perintah “janganlah engkau … membunuh, tidak juga melakukan apa pun yang seperti itu”13 dilandaskan pada hukum rohani yang melindungi semua anak Allah, bahkan yang belum lahir. Pengalaman lama menyarankan bahwa ketika kita mengabaikan hukum ini, mengakibatkan kemalangan besar. Namun banyak yang percaya adalah diterima untuk mengakhiri kehidupan dari anak yang belum dilahirkan karena alasan preferensi atau kenyamanan.

Merasionalisasi ketidakpatuhan tidak mengubah hukum atau konsekuensinya namun menuntun pada kebingungan, ketidakstabilan, mengembara di jalan-jalan asing, menjadi tersesat, serta kepedihan. Sebagai para murid Kristus, kita memiliki kewajiban sakral untuk menjunjung tinggi hukum-hukum dan perintah-perintah-Nya serta perjanjian-perjanjian yang kita ambil ke atas diri kita.

Pada bulan Desember 1831 beberapa pemimpin dipanggil untuk membantu meredakan perasaan tidak ramah yang telah merebak terhadap Gereja. Melalui Nabi Joseph Smith, Tuhan mengarahkan mereka dalam cara yang tidak lazim, bahkan mengejutkan:

“Bingungkanlah musuhmu; mintalah kepada mereka untuk menemuimu baik di depan umum maupun secara pribadi; …

Karenanya, biarlah mereka menampilkan alasan-alasan yang kuat mereka menentang Tuhan.

… Tidak ada senjata yang dibentuk melawanmu akan berjaya.

Dan jika siapa pun mengangkat suaranya menentangmu dia akan dibinasakan pada waktu-Ku sendiri yang tepat.

Karenanya, taatilah perintah-perintah-Ku; itu adalah benar dan pasti.”14

Pelajaran dalam Tulisan Suci

Tulisan suci penuh dengan teladan para nabi yang telah mempelajari pelajaran-pelajaran tentang kepatuhan melalui pengalaman pribadi mereka.Kepada Joseph Smith diajarkan mengenai

konsekuensi dari menyerah pada tekanan dari donatur, sahabat, dan juru tulisnya, Martin Harris. Sebagai jawaban terhadap permohonan Martin, Joseph meminta izin Tuhan untuk meminjamkan 116 halaman naskah Kitab Mormon agar Martin dapat memperlihatkan itu kepada keluarganya, namun Tuhan memerintahkan Joseph untuk menjawab tidak. Martin memohon kepada Joseph agar menanyakan kepada Tuhan lagi. Setelah permintaan ketiga Joseph, Tuhan memberikan izin kepada lima orang tertentu untuk mengkaji ulang naskah tersebut. “Dalam perjanjian yang paling khusyuk Martin mengikatkan dirinya pada kesepakatan ini. Ketika dia tiba di rumah, dan tekanan harus ditanggungnya, dia melupakan sumpah khusyuknya dan mengizinkan orang lain untuk melihat naskah itu, dan dengan tipu daya naskah itu lepas dari tangannya,”15 dan itu hilang. Sebagai konsekuensinya, Joseph ditegur oleh Tuhan dan tidak diizinkan untuk melanjutkan menerjemahkan Kitab Mormon. Joseph menderita dan bertobat dari pelanggarannya karena menyerah pada tekanan orang lain. Setelah satu musim, Joseph diizinkan untuk melanjutkan pekerjaan penerjemahannya. Joseph memetik sebuah pelajaran berharga akan kepatuhan yang menguntungkan baginya di sisa hidupnya!

Nabi Musa memberikan contoh lain. Ketika Musa dengan patuh memperistri orang Ethiopia, Miriam dan Harun berbicara menentangnya. Namun Tuhan menegurnya, menyatakan, “Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan [Musa].”16 Tuhan menggunakan peristiwa ini untuk mengajarkan kepada anggota Gereja pada dispensasi kita. Pada tahun 1830 Hiram Page mengaku menerima wahyu bagi Gereja. Tuhan mengoreksi dia dan mengajar Orang-Orang Suci, “Engkau hendaknya patuh kepada hal-hal yang akan Aku berikan kepada [Joseph], bahkan seperti Harun.”17 “karena dia menerimanya bahkan seperti Musa.”18

Kepatuhan mendatangkan berkat-berkat, “dan ketika kita mendapatkan berkat apa pun dari Allah, itu adalah karena kepatuhan pada hukum itu yang di atasnya segala berkat dilandaskan.”19

Kepatuhan diajarkan melalui teladan. Melalui cara kita hidup, kita mengajar anak-anak kita, “Belajarlah kebijaksanaan pada masa mudamu; ya, belajarlah pada masa mudamu untuk menaati perintah-perintah Allah.”20

Kepatuhan menjadikan kita secara progresif lebih kuat, mampu dengan setia menahan ujian dan kesulitan di masa depan. Kepatuhan di Getsemani mempersiapkan Juruselamat untuk patuh dan bertahan sampai akhir di Golgota.

Brother dan sister terkasih, perkataan Alma mengungkapkan perasaan hati saya:

“Dan sekarang, saudara-saudara terkasihku, aku telah mengatakan hal-hal ini kepadamu agar aku boleh membangunkanmu pada kesadaran akan kewajibanmu kepada Allah, agar kamu boleh berjalan tanpa salah di hadapan-Nya …

Dan sekarang, aku menghendaki agar kamu hendaknya rendah hati, dan tunduk dan lemah lembut; … tekun dalam menaati perintah-perintah Allah di segala waktu.”21

Saya membagikan kesaksian khusus saya bahwa Juruselamat kita hidup. Karena Dia patuh, “setiap lutut akan bertekuk, dan setiap lidah mengaku … bahwa Dia adalah [Juruselamat kita].”22 Semoga kita mengasihi Dia secara mendalam dan percaya kepada-Nya dalam iman secara menyeluruh sehingga kita juga patuh, menaati perintah-perintah-Nya, dan kembali hidup bersama Dia selama-lamanya dalam kerajaan Allah kita adalah doa saya di dalam nama Yesus Kristus, amin.

Show References

  1.  

    1.  Musa 4:2.

  2.  

    2.  Ajaran dan Perjanjian 20:22.

  3.  

    3.  Ibrani 5:8.

  4.  

    4. Lihat Pasal-Pasal Kepercayaan 1:3.

  5.  

    5.  Yohanes 14:15.

  6.  

    6.  Luke 18:22.

  7.  

    7.  Mosia 5:8.

  8.  

    8.  Matius 26:39; lihat juga ayat 42, 44.

  9.  

    9.  Matius 3:17; lihat juga 3 Nefi 11:7.

  10.  

    10.  Matius 25:21.

  11.  

    11. “Hal yang Benar,” Nyanyian Rohani, no. 114.

  12.  

    12.  Musa 5:13.

  13.  

    13.  Ajaran dan Perjanjian 59:6.

  14.  

    14.  Ajaran dan Perjanjian 71:7‒11.

  15.  

    15. Joseph Fielding Smith, Essentials in Church History ,(1922) 65; lihat juga Ajaran dan Perjanjian 3.

  16.  

    16.  Bilangan 12:38.

  17.  

    17.  Ajaran dan Perjanjian 28:3.

  18.  

    18.  Ajaran dan Perjanjian 28:2.

  19.  

    19.  Ajaran dan Perjanjian 130:21; lihat juga ayat 20.

  20.  

    20.  Alma 37:35.

  21.  

    21.  Alma 7:22–23.

  22.  

    22.  Mosia 27:31.