Penghormatan kepada Allah Adalah Awal dari Kebijaksanaan

Dari ceramah dalam upacara wisuda yang disampaikan pada 10 April 2009, di Universitas Brigham Young–Idaho. Untuk naskah lengkap dalam bahasa Inggris, kunjungi http://web.byui.edu/DevotionalsAndSpeeches.


Neil L. Andersen
Kebijaksanaan dunia adalah paling berharga ketika kebijaksanaan tersebut dipengaruhi dan mengikuti kebijaksanaan Allah.

Kita hidup di dunia yang memiliki informasi terlalu banyak. Mungkin sebagai lambang dari dunia ini adalah Wikipedia yang luar biasa, ensiklopedia daring terbesar dunia. Sebagai gambaran bagi Anda mengenai cakupannya, sejak tahun 2012 Wikipedia ini memiliki lebih dari 2,5 miliar kata dalam bahasa Inggris saja dan lebih dari 22 juta artikel dalam kira-kira 284 bahasa. Ada lebih dari 70 versi bahasa Wikipedia yang masing-masing memiliki paling tidak 10.000 artikel. Ada lebih dari 4 juta artikel dalam versi bahasa Inggris.1

Informasi kita yang terlalu banyak telah dibuktikan juga dalam penggunaan situs jejaring sosial yang telah meningkat dengan tajam seperti Facebook, yang didirikan tahun 2004 dan lebih dari 1 miliar pengguna aktif di seluruh dunia tahun 2012,2 atau YouTube, yang diluncurkan tahun 2005, di mana sejumlah klip video dilaporkan telah dilihat lebih dari 100 juta kali.

Dengan semakin meningkatnya gelombang informasi ini, betapa kita sangat membutuhkan kebijaksanaan, kebijaksanaan untuk memilah-milah dan membedakan bagaimana menerapkan apa yang kita pelajari. T. S. Eliot, seorang Kristen yang memercayai Kristus menulis beberapa tahun lalu, yang relevan dengan dunia kita zaman sekarang:

Oh dunia dengan musim semi dan musim gugur, dengan kelahiran dan kematian!
Penuh dengan gagasan dan tindakan tanpa henti,
Dengan penemuan, eksperimen tanpa henti,
Mendatangkan pengetahuan tentang gerakan, tetapi bukan perhentian;
Pengetahuan tentang berbicara, tetapi bukan kebisuan;
Pengetahuan tentang kata-kata, dan ketidakpedulian Firman.
Semua pengetahuan duniawi kita membawa kita lebih dekat pada ketidakpedulian kita,
Semua ketidakpedulian kita membawa kita lebih dekat pada kematian,
Tetapi jika dekat dengan kematian maka kita tidak akan dekat pada Allah
Di manakah Kehidupan yang telah hilang dalam kehidupan?
Di manakah kebijaksanaan yang telah hilang dari kita dalam pengetahuan?
Di manakah pengetahuan yang telah hilang dari kita dalam informasi?
Berlalunya waktu selama dua puluh abad
Membawa kita lebih jauh dari Allah dan lebih dekat pada Kematian.3

Seberapa baik Anda memahami kebijaksanaan? Ada orang yang mungkin menghubungkan hal ini dengan wanita muda, bersemangat tentang pernikahannya yang akan datang, yang berseru kepada orang tuanya, “Oh, saya akan menikah. Akhirnya semua kesulitanku berakhir.” Dan ibunya berbisik kepada ayahnya, “Ya, tetapi dia tidak tahu bahwa ini adalah awal dari kesulitan.”

Semakin banyak saya belajar mengenai kebijaksanaan Allah, semakin banyak saya percaya bahwa saya baru berada pada tahap awal dari kebijaksanaan. Itu membuat saya rendah hati sewaktu saya menyadari betapa banyak yang masih harus saya pelajari. Sekarang, saya berharap untuk meningkatkan hasrat kita untuk mendapatkan kebijaksanaan dan khususnya kebijaksanaan Allah.

Berkat Kebijaksanaan

Saya ingin menekankan beberapa asas mengenai kebijaksanaan. Pertama, di zaman informasi dan pengetahuan kita, kita harus mencari kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah multidimensi dan memiliki banyak aspek dan ragam yang berbeda. Kebijaksanaan yang diperoleh lebih awal mendatangkan berkat-berkat besar. Kebijaksanaan dalam satu bidang mungkin tidak bisa digunakan dalam bidang lainnya. Dan terakhir, kebijaksanaan dunia, sementara dalam banyak kasus sangat bermanfaat, paling bermanfaat ketika kebijaksanaan itu dengan rendah hati tunduk pada kebijaksanaan Allah.

Tulisan suci menggambarkan dua jenis kebijaksanaan: kebijaksanaan dunia dan kebijaksanaan Allah. Kebijaksanaan dunia memiliki baik komponen positif maupun negatif. Dalam penggambaran yang terburuk, kebijaksanaan dapat digambarkan sebagai kebenaran sebagian, bercampur dengan kecerdasan dan manipulasi, untuk mencapai tujuan-tujuan yang mementingkan diri dan jahat.

Sebuah contoh dari Kitab Mormon adalah pria yang bernama Amlisi. Tulisan suci mengatakan bahwa “seorang pria tertentu, yang bernama Amlisi, dia adalah pria yang sangat licik, ya, pria yang bijak sehubungan dengan kebijaksanaan dunia … [menarik] banyak orang kepadanya.” Tulisan suci melanjutkan dengan menggambarkan Amlisi sebagai “orang yang jahat, … [yang] maksdudnya [adalah] untuk menghancurkan gereja Allah” (Alma 2:1–2, 4; penekanan ditambahkan). Kita tidak tertarik pada jenis kebijaksanaan ini. 

Ada jenis lain dari kebijaksanaan dunia yang tidak terlalu jahat. Sesungguhnya ini sangat positif. Kebijaksanaan ini diperoleh dengan penuh kesadaran melalui penelahaan, perenungan, pengamatan, dan kerja keras. Ini sangat bermanfaat dan berguna untuk hal-hal yang kita lakukan. Bagi orang yang baik dan layak, kebijaksanaan ini datang sewaktu kita mengalami kefanaan kita.

Anda mungkin ingat komentar penulis Amerika Mark Twain, “Ketika saya masih kecil, berusia 14 tahun, ayah saya begitu tidak peduli sehingga saya hampir tidak tahan berada bersama orang tua seperti itu. Tetapi ketika saya berusia 21 tahun, saya kagum betapa dia telah belajar banyak dalam waktu 7 tahun.”4 Jika kita jeli, jika kita bijaksana, kita dapat belajar banyak seiring berjalannya waktu.

Saya teringat saat wisuda saya dari perguruan tinggi. Saya mengadakan perjalanan dari Universitas Brigham Young ke Preston, Idaho, Amerika Serikat, tempat nenek saya, Mary Keller, tinggal. Waktu itu usianya 78 tahun dan sudah lemah. Dia meninggal dua tahun kemudian. Dia adalah wanita yang luar biasa, dan saya tahu bahwa jika saya bersedia mendengarkan dan belajar dari pengalaman-pengalamannya, saya dapat belajar kebijaksanaan yang akan membantu saya menjalani hidup.

Kita dapat mengatasi banyak dari pengalaman-pengalaman sedih yang datang kepada sejumlah orang dalam kehidupan dengan mendapatkan kebijaksanaan lebih awal—kebijaksanaan melampaui usia kita. Carilah kebijaksanaan ini—renungkanlah, amatilah dengan cermat, pikirkan mengenai apa yang Anda alami dalam kehidupan.

Kita juga dapat belajar kebijaksanaan melalui pekerjaan spesifik dan kegiatan pribadi kita. Izinkanlah saya memberikan kepada Anda dua contoh.

Dr. DeVon C. Hale adalah seorang dokter di Salt Lake City yang dibesarkan di Idaho Falls, Idaho. Saya kagum atas pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimilikinya dalam hal yang berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis. Ini tidak hanya berhubungan dengan pengetahuan Dr. Hale melainkan juga pemahamannya tentang bagaimana menerapkan pengetahuan itu, mengklasifikasikan beberapa bidang informasi dan menilai satu bidang informasi terhadap yang lainnya. Sungguh merupakan suatu berkat memiliki jenis kebijaksanaan medis seperti itu untuk para misionaris di seluruh dunia.

Contoh kedua: Ketika putra tertua kami memulai sekolah tingkat dasar di kampung halaman kami di Tampa, Florida, Amerika Serikat, kami bersemangat sekali untuk bertemu dengan guru TK anak kami, Ny. Judith Graybell. Dia adalah wanita berusia 50-an dan memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menangani anak-anak kecil. Dia tahu bagaimana memotivasi mereka, kapan memuji mereka, dan kapan bertindak tegas terhadap mereka. Dia memiliki pengetahuan untuk mengajar mereka, tetapi dia memiliki lebih dari itu. Kami bekerja keras untuk meminta agar setiap dari anak-anak kami mau masuk ke ruang kelas TK-nya.

Kedua orang ini memperlihatkan kebijaksanaan pilihan dalam dunia. Kebijaksanaan mereka adalah bantuan bagi banyak orang dan memungkinkan mereka untuk berhasil dalam karier mereka.

Akan tetapi, kita hendaknya menyadari keterbatasan dari kebijaksanaan ini. Kebijaksanaan dalam satu bidang mungkin tidak berarti memberikan kebijaksanaan dalam bidang yang lain. Misalnya, saya mungkin tidak akan menginginkan Nyonya Graybell untuk mendiagnosis penyakit-penyakit tropis, dan saya mungkin tidak menginginkan Dr. Hale untuk mengajar kelas TK anak saya.

Terlebih penting lagi, kebijaksanaan yang mendatangkan keberhasilan dalam dunia harus bersedia tunduk pada kebijaksanaan dari Allah dan tidak menginginkan bahwa kebijaksanaan dunia lebih unggul daripada kebijaksanaan Allah.

Ingatlah: semua kebijaksanaan tidak diciptakan sama.

Pemazmur berkata, “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan” (Mazmur 111:10). Apa yang dimaksud dari tulisan suci ini adalah bahwa “penghormatan yang mendalam”5 kepada Tuhan adalah awal dari kebijaksanaan. Penghormatan yang mendalam itu datang karena Bapa Surgawi kita “memiliki segala kebijaksanaan, dan segala kuasa, baik di langit maupun di bumi” (Mosia 4:9). Kebijaksanaan-Nya adalah sempurna, murni, tidak mementingkan diri.

Kebijaksanaan ini, terkadang, akan berlawanan dengan kebijaksanaan dunia, yang artinya kebijaksanaan Allah dan kebijaksanaan dunia akan langsung saling bertentangan.

Ingatkah firman Tuhan dalam Yesaya?

”Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.

Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8–9).

Kebijaksanaan Allah tidak akan datang kepada kita berdasarkan hak; kita harus bersedia mencarinya. “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yakobus 1:5; penekanan ditambahkan).

Kebijaksanaan Allah adalah sebuah karunia rohani. “Janganlah mencari untuk kekayaan tetapi untuk kebijaksanaan, dan lihatlah, misteri-misteri Allah akan dikuakkan kepadamu, dan kemudian kamu akan dijadikan kaya” (A&P 6:7; penekanan ditambahkan).

Mencari kebijaksanaan Allah selalu disertai dengan kepatuhan pada perintah-perintah.

Umumnya, karunia kebijaksanaan rohani datang langkah demi langkah sewaktu kita mencarinya dengan jujur dan tekun. “Aku akan memberikan kepada anak-anak manusia baris demi baris, ajaran demi ajaran, … dan diberkatilah mereka yang menyimak ajaran-Ku, … karena mereka akan belajar kebijaksanaan; karena kepada dia yang menerima Aku akan memberikan lebih banyak” (2 Nefi 28:30; penekanan ditambahkan).

Joseph Smith mengatakan hal ini, “Hal-hal dari Allah adalah sangat penting; dan hanya melalui waktu, dan pengalaman, pikiran-pikiran yang cermat dan penuh renungan dan sungguh-sungguh yang dapat menemukan hal-hal dari Allah tersebut.”6 Tidak ada kepuasan seketika dalam mencari kebijaksaan Allah.

Terakhir, sumber kebijaksanaan Allah berbeda dengan sumber dari dunia. Kebijaksanaan Allah terdapat dalam tulisan suci, dalam ajaran-ajaran para nabi (seperti saat dalam konferensi umum), dan, tentu saja, dalam doa-doa kita (lihat A&P 8:1–2). Dan selalu, selalu kebijaksanaan ini diberikan kepada kita melalui kuasa Roh Kudus. Rasul Paulus mengatakan:

“Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah .…

Kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh” (1 Korintus 2:11, 13; penekanan ditambahkan).

Dengan kebijaksanaan Allah, kita melihat melampaui situasi-situasi kita saat ini karena, seperti yang dinyatakan dalam tulisan suci, “Roh … berbicara tentang hal-hal sebagaimana itu benar-benar adanya, dan tentang hal-hal sebagaimana itu benar-benar akan adanya” (Yakub 4:13).

Kebijaksanaan Allah adalah kebijaksanaan yang patut mendapatkan perhatian khusus kita.

Kebijaksanaan dan Persepuluhan

Mungkin hal paling penting adalah bahwa tidak semua kebijaksanaan diciptakan sama. Kita perlu belajar bahwa ketika terdapat pertentangan di antara kebijaksanaan dunia dan kebijaksanaan Allah, kita harus menyerahkan kehendak kita pada kebijaksanaan Allah.

Kita adalah putra dan putri Allah. Kita adalah makhluk rohani yang sedang melaksanakan misi fana. Kita yang mengabdikan pembelajaran pada kebijaksanaan dunia dan kebijaksanaan Allah tidak boleh dibingungkan oleh kebijaksanaan mana yang lebih penting.

Izinkan saya membagikan sebuah pengalaman dari seorang anggota Orang Suci Zaman Akhir yang mulia di São Paulo, Brasil. Dia menceritakan mengenai pergumulannya antara membayar persepuluhan atau membayar uang kuliah. Berikut adalah kata-katanya:

“Universitas … melarang mahasiswa yang masih berutang [atau yang belum membayar biaya kuliah mereka] untuk mengikuti tes.

Saya teringat ketika saya … menghadapi kesulitan keuangan yang serius. Waktu itu adalah hari Kamis ketika saya menerima gaji saya. Ketika saya menghitung anggaran bulanan saya, saya memerhatikan bahwa uang tidak akan cukup untuk membayar [baik] persepuluhan maupun uang kuliah universitas saya. Saya harus memilih salah satu di antara keduanya. Tes setiap dua bulan akan dimulai minggu berikutnya, dan jika saya tidak mengambil tes tersebut, saya bisa kehilangan satu tahun ajaran. Saya merasa sangat menderita .… Hati saya hancur dan sedih.”

Ini adalah pertentangan langsung antara kebijaksanaan dunia dan kebijaksanaan Allah. Meskipun Anda adalah orang yang sangat baik dan saleh, Anda akan menjumpai dalam kehidupan Anda, jika Anda jujur pada diri Anda sendiri, bahwa hati Anda akan sakit sewaktu Anda merasakan adanya pertentangan di antara kedua kebijaksanaan ini.

Saya kembali pada kisahnya. Pertama, dia membayar persepuluhan di hari Minggu. Pada hari Senin berikutnya dia menceritakan apa yang terjadi:

“Jam kerja berakhir ketika atasan saya menghampiri saya dan memberikan perintah terakhir di hari itu .… Tiba-tiba, dia berhenti sejenak, dan bertanya, ‘Bagaimana kuliah Anda?’ [Dia menggambarkan atasannya sebagai orang yang galak, dan dia hanya mengatakan:] ‘Segala sesuatu baik-baik saja!’”

Dia lalu pergi. Tiba-tiba sekretaris masuk ke dalam ruangan. Dia berkata, “Atasan baru saja mengatakan bahwa mulai hari ini, perusahaan akan membayar penuh untuk biaya kuliah dan buku Anda. Sebelum pergi, mohon mampir ke kantor saya dan beri tahu saya mengenai biaya-biayanya sehingga besok saya dapat memberikan cek kepada Anda.”7

Jika Anda tanggap, Anda akan mendapati bahwa Anda sering dihadapkan pada jenis-jenis tes seperti ini di sepanjang kehidupan Anda. Di manakah Anda menempatkan kepercayaan Anda? Dengarlah peringatan Tuhan langsung kepada kita:

“Ah, kesia-siaan, dan kelemahan, dan kebodohan manusia! Bilamana mereka terpelajar [dalam kebijaksanaan dunia] mereka berpikir mereka bijak, dan mereka tidak menyimak nasihat Allah, karena mereka menyampingkannya, mengira mereka tahu dari diri mereka sendiri [kebijaksanaan dunia], karenanya, kebijaksanaan mereka adalah kebodohan dan itu tidak menguntungkan mereka. Dan mereka binasa.

Tetapi menjadi terpelajar [dalam kebijaksanaan dunia] adalah baik jika mereka menyimak nasihat-nasihat Allah” (2 Nefi 9:28–29; penekanan ditambahkan).

Sekarang dari Paulus:

“Di manakah orang yang berhikmat? … bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?” (1 Korintus 1:20).

“Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.

Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah” (1 Korintus 3:18–19; penekanan ditambahkan).

Sering kali ujiannya adalah apakah kita akan membiarkan kebijaksanaan Allah menjadi jalan yang menuntun kita ketika kebijaksanaan itu berlawanan dengan kebijaksanaan dunia.

Amon meratap, “Karena mereka tidak mau mencari kebijaksanaan [kebijaksanaan Allah], tidak juga mereka berhasrat bahwa itu akan berkuasa atas diri mereka” (Mosia 8:20). Ketika memikirkan mengenai mereka yang telah bersedia membiarkan kebijaksanaan Allah berkuasa atas mereka, saya memikirkan mengenai seorang teman saya dari Cina daratan, Xie Ying, yang banyak berkurban untuk menjadi anggota Gereja dan melayani misi di New York. Saya memikirkan mengenai dua putri saya, keduanya sangat cerdas yang memiliki gelar S2 tetapi yang telah memilih berkat-berkat dalam peranan mereka sebagai ibu dan memiliki anak. Saya memikirkan mengenai seorang teman dari Amerika Selatan yang meninggalkan pekerjaan bergaji besar ketika dia mengetahui perusahaannya telah menghindari pajak secara tidak sah. Semua yang saya sebutkan di atas telah menempatkan kebijaksanaan Allah di atas kebijaksanaan dunia.

Sayangnya, kebijaksanaan dunia dapat memperdaya orang yang mumpuni. Joseph Smith mengatakannya dengan cara ini, “Ada sangat banyak pria dan wanita bijak juga di tengah-tengah kita yang terlalu bijak untuk diajar; karenanya mereka harus mati dalam kemasabodohan mereka, dan dalam kebangkitan mereka akan menemukan kesalahan mereka.”8

Kebijaksanaan dan Keuangan

Dengan adanya kesulitan dalam ekonomi kita, izinkan saya mengangkat isu mengenai keuangan pribadi. Dalam kondisi kita saat ini kita semua lebih rendah hati dan mudah diajar—tetapi pikirkanlah kembali mengenai beberapa tahun terakhir.

Dunia mengajarkan bahwa jika kita menginginkan sesuatu, kita harus memilikinya. Kita tidak perlu menunggu untuk mendapatkannya. Utang dapat memungkinkan kita untuk memilikinya sekarang juga. Bahwa utang bisa dilakukan melalui kartu kredit, atau utang dapat diperoleh dengan cara menggadaikan rumah kita. Kita dapat menggadaikan apa saja yang kita miliki, bahkan pendidikan kita. Nilainya akan selalu meningkat, dan kita akan menjadi makmur. Kebijaksanaan dunia adalah bahwa jumlah cicilan bulanan lebih penting daripada jumlah pinjaman. Kewajiban kita sedikit berada dalam kontrol kita, dan jika semuanya gagal, kebangkrutan adalah pilihan terakhir kita.

Sekarang mari kita memikirkan kebijaksanaan Allah mengenai keuangan pribadi, yang terus-menerus diajarkan oleh para nabi. Landasannya adalah kemandirian dan bekerja. Kita menggunakan uang secara benar dengan membayar persepuluhan yang jujur dan murah hati dalam membayar persembahan puasa kita. Kita membelanjakan uang lebih sedikit daripada pendapatan yang kita peroleh, dan kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan kita. Kita menghindari utang kecuali untuk kebutuhan yang paling mendasar. Kita membelanjakan uang sesuai dengan anggaran. Kita menabung uang. Kita jujur dalam semua kewajiban kita.

Kira-kira 14 tahun yang lalu, Presiden Gordon B. Hinckley (1910–2008) memperingatkan, “Saya memberitahukan bahwa waktunya telah tiba untuk menertibkan rumah kita. Begitu banyak umat kita yang membelanjakan seluruh pendapatan mereka. Pada kenyataannya, beberapa hidup dari uang pinjaman …. Ada peringatan mengenai kesulitan ekonomi yang akan datang di mana peringatan ini sebaiknya kita indahkan.”9

Beberapa tahun yang lalu di tengah-tengah kemakmuran kita, Presiden Thomas S. Monson mengatakan:

“Brother dan sister, hindarilah filosofi bahwa kemewahan masa lampau telah menjadi kebutuhan saat ini. Kemewahan bukanlah kebutuhan kecuali jika kita membuatnya demikian. Banyak orang terjebak dalam utang jangka panjang hanya untuk mendapati bahwa perubahan bisa terjadi: orang menjadi sakit atau menjadi tidak mampu, perusahaan mengalami kebangkrutan atau mengurangi karyawan, pekerjaan hilang, bencana alam menimpa kita. Untuk banyak alasan, pembayaran atas hutang dalam jumlah yang besar tidak bisa lagi dilakukan. Utang kita menjadi bahaya yang mengancam untuk menghancurkan kita.

Saya mengimbau Anda untuk hidup sesuai dengan pendapatan Anda. Orang tidak bisa membelanjakan uang lebih dari pendapatan yang diperolehnya dan tetap memiliki cukup uang. Saya berjanji kepada Anda bahwa kelak Anda akan lebih bahagia daripada jika Anda terus-menerus cemas mengenai bagaimana membayar cicilan berikutnya atas utang yang tidak perlu.”10

Dapatkah Anda melihat bagaimana kebijaksanaan Allah dapat bertentangan dengan kebijaksanaan dunia? Pilihannya tidak terlalu jelas ketika semua terlihat menimbulkan kemakmuran. Banyak anggota Gereja berharap seandainya saja mereka telah mendengarkan dengan lebih perhatian.

Ini adalah kebijaksanaan Allah.

Saya menyarankan Anda untuk mengumpulkan beberapa dari masalah yang sedang Anda hadapi. Buatlah sebuah garis di tengah-tengah selembar kertas. Tulislah daftar kebijaksanaan dunia di sebelah kiri dan kebijaksanaan Allah di sebelah kanan. Tulislah masalah-masalah yang saling bertentangan.

Pilihan-pilihan apa yang Anda buat?

Di bagian 45 dari Ajaran dan Perjanjian, yang berbicara mengenai peristiwa-peristiwa yang menuntun pada Kedatangan Kedua Juruselamat, Tuhan sekali lagi menceritakan kisah mengenai sepuluh gadis dan kemudian meninggalkan kita dengan kata-kata ini: “Karena mereka yang bijak dan telah menerima kebenaran, dan telah mengambil Roh Kudus untuk membimbing mereka, dan tidak tertipu—sesungguhnya Aku berfirman kepadamu, mereka tidak akan ditebang dan dilempar ke dalam api, tetapi akan bertahan pada hari itu” (A&P 45:57).

Marilah kita mencari kebijaksanaan Allah. Kita saat ini berada dalam kesulitan ekonomi yang melanda seluruh dunia, dan ini menimbulkan beberapa kekhawatiran sewaktu kita membuat rencana untuk pekerjaan, karier, dan pendapatan. Tetapi ada banyak kesempatan yang baik dan cerah di masa yang akan datang. Ada banyak yang dapat kita pelajari sekarang mengenai kebijaksanaan. Saya berjanji kepada Anda bahwa berkat-berkat Tuhan akan menyertai Anda sewaktu Anda mencari kebijaksanaan—kebijaksanaan Allah.

Tampilkan Rujukan

    Catatan

  1.   1.

    Lihat Andrew Lih, The Wikipedia Revolution (2009), xv–xvi; lihat juga http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Size_comparisons; http://wikimediafoundation.org/wiki/FAQ/en; http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Wikipedia.

  2.   2.

    Lihat Ramona Emerson, “Facebook Users Expected to Pass 1 Billion in August: iCrossing,” The Huffington Post, Jan. 14, 2012, www.huffingtonpost.com/2012/01/13/facebook-users-1-billion-icrossing_n_1204948.html.

  3.   3.

    “Choruses from ‘The Rock,’” dalam T. S. Eliot: The Complete Poems and Plays, 1909–1950 (1980), 96.

  4.   4.

    Mark Twain Laughing: Humorous Anecdotes by and about Samuel L. Clemens, diedit oleh P. M. Zall (1985), xxii.

  5.   5.

    Lihat Marion G. Romney, “Converting Knowledge into Wisdom,” Ensign, Juli 1983, 5.

  6.   6.

    Ajaran-Ajaran Presiden Gereja: Joseph Smith (2007), 306.

  7.   7.

    Dalam Gordon B. Hinckley, “Kita Berjalan dengan Iman,” Liahona, Juli 2002, 81–82.

  8.   8.

    Ajaran-Ajaran: Joseph Smith, 232.

  9.   9.

    Gordon B. Hinckley, “Kepada Para Anak Laki-Laki dan kepada Para Pria,” Liahona, Januari 1999, 63.

  10.   10.

    Thomas S. Monson, “Teguh pada Iman,” Liahona, Mei 2006, 19.