2007
Para Imam Shinto Menyambut Penatua Eyring di Kuil Bersejarah Meiji di Jepang
Oktober 2007


Para Imam Shinto Menyambut Penatua Eyring di Kuil Bersejarah Meiji di Jepang

Katsushi Toyama, imam ketua di Kuil Bersejarah Meiji Tokyo, bertemu dengan Penatua Henry B. Eyring dari Kuorum Dua Belas Rasul selama tur Penatua Eyring ke area-area Gereja di Asia dan kepulauan Pasifik.

Penatua Eyring, bersama Penatua D. Todd Christofferson dari Presidensi Tujuh Puluh dan Penatua David F. Evans, Presiden Area Asia Utara, diundang untuk bertemu dengan Tn. Toyama untuk membangun jembatan untuk saling memahami dan niat baik.

Tn. Toyama memberi tahu para pengunjung bahwa tidak ada buku yang ditulis tentang ajaran Shinto yang sama seperti Alkitab atau kitab suci lainnya, namun para pengikutnya menyatakan hubungan mereka dengan Allah dengan berusaha menjaga kemurnian dan kesalehan di dalam kehidupan mereka.

Penatua Eyring mengatakan para anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir juga berusaha menjalankan kemurnian dan kesalehan pribadi di dalam kehidupan mereka. “Nabi kita, Gordon B. Hinckley, secara tetap menasihati para anggota Gereja kita untuk menjadikan kepercayaan mereka bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka,” dia menuturkan.

Tn. Toyama pertama kali mengenal Gereja ketika dia dijamu di Salt Lake City pada tahun 1970-an. Akhir-akhir ini, hubungan ini telah terpelihara sewaktu para iman lainnya dari kuil tersebut mengunjungi Salt Lake City dan Universitas Brigham Young di Provo, Utah. Tahun 2005, Paduan Suara Konser BYU–Hawaii menjadi kelompok Kristen pertama yang tampil di Kuil Meiji.

Pertemuan dengan Tn. Toyama bertempat di sebuah ruangan kecil di kuil yang biasanya digunakan untuk perbincangan dengan kepala negara dan wakil mereka.

Kaisar Meiji, begitu kuil itu diberi nama, memerintah Jepang dari tahun 1867 hingga 1912. Dia menyeimbangkan keinginan untuk mempertahankan keunikan budaya bangsa Jepang dengan dorongan yang kuat untuk membawa negaranya ke dalam dunia industrialisasi.

Pembaptisan pertama di Jepang terjadi tahun 1902. Dewasa ini terdapat lebih dari 120.000 anggota Gereja di Jepang. Gereja juga memiliki dua bait suci di sana, satu di Tokyo dan yang lainnya di Fukuoka.